SEHARI menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah kembali disibukkan dengan tradisi khas yang dikenal sebagai Prepegan. Ritual tahunan ini melibatkan ribuan warga yang berbondong-bondong memadati pasar tradisional untuk berburu berbagai kebutuhan Lebaran, termasuk selongsong ketupat.
Di Kabupaten Brebes, salah satu sentra tradisi ini, kaum ibu menjadi motor utama keramaian. Mereka tampak antusias mengunjungi Pasar Induk Brebes, mencari selongsong ketupat yang akan diisi beras dan direbus menjadi hidangan wajib setelah menunaikan Salat Idul Fitri. Tak hanya penjual tetap, banyak pedagang musiman juga turut meramaikan pasar dengan menawarkan jasa pembuatan selongsong ketupat secara langsung.
Makna Simbolik dan Sejarah Prepegan
Budayawan Pantura, Atmo Tan Sidik, menjelaskan bahwa tradisi Prepegan memiliki fungsi penting sebagai pengecekan ulang kebutuhan rumah tangga sebelum Lebaran tiba. “Prepegan ada dua, yakni Prebegan Cilik pada H-2 dan Prebegan Gede pada H-1 jelang Lebaran,” jelas Atmo dari kediamannya di Marpangat, Kota Tegal, Jumat (20/3/2026).
Menurut Atmo, ketupat atau lepet yang disantap setelah Salat Idul Fitri bukan sekadar hidangan biasa. Ia mengandung makna filosofis yang mendalam. “Makan ketupat atau lepet memiliki makna simbolik, yakni mengakui kesalahan dan meminta maaf,” imbuhnya.
Tradisi menyantap ketupat saat Lebaran sendiri telah ada sejak abad ke-15, dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga. Kini, kearifan lokal serupa juga dapat dijumpai di beberapa negara lain di Asia Tenggara, seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Thailand Selatan, menunjukkan universalitas nilai kebersamaan dan maaf.
Antusiasme Warga dan Dampak Ekonomi Lokal
Antusiasme menyambut Lebaran 2026 sangat terasa di kalangan masyarakat. Yayah, 59 tahun, seorang warga Kelurahan Pasarbatang, Brebes, mengungkapkan kebahagiaannya karena dapat berkumpul bersama keluarga dari luar daerah. “Yang makan ketupat biasanya keluarga yang ada di rumah,” ujarnya.
Prepegan memang menjadi penanda penting bagi masyarakat Jawa, khususnya di Pantura, yang dilakukan satu hingga dua hari menjelang Lebaran. Fenomena ini tidak hanya menciptakan keramaian di pasar tradisional, tetapi juga memicu munculnya pedagang musiman dan peningkatan drastis pembelian bahan makanan segar, janur ketupat, hingga pakaian. Tradisi ini secara nyata mencerminkan kearifan lokal dan kekompakan masyarakat dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri.
