Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid mengakui daerahnya menghadapi tekanan fiskal signifikan sejak tahun 2025, yang diperkirakan berlanjut hingga 2026. Kondisi ini dipicu oleh penurunan transfer daerah yang mencapai Rp1,2 triliun pada tahun 2026, setelah sebelumnya berkurang Rp530 miliar pada 2025.
Dampak Penurunan Kapasitas Fiskal
Anwar Hafid menjelaskan bahwa melemahnya aktivitas administrasi pemerintahan menjadi konsekuensi langsung dari berkurangnya kapasitas fiskal daerah. “Penurunan dipicu melemahnya aktivitas administrasi pemerintahan, akibat berkurangnya kapasitas fiskal daerah,” kata Anwar Hafid dalam Forum Ekonomi Keuangan Sulawesi Tengah (FRESH) di Palu, Kamis (7/5/2026).
Ia merinci, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sulteng mengalami penyusutan drastis. “APBD kita sebelumnya hampir Rp6 triliun, sekarang tinggal sekitar Rp4,3 triliun. Itu sangat memengaruhi belanja pemerintah dan aktivitas birokrasi,” ungkapnya, menyoroti dampak langsung terhadap operasional pemerintahan dan pembangunan daerah.
Optimisme di Tengah Tantangan
Meski menghadapi tekanan fiskal, Anwar Hafid menyatakan optimisme terhadap prospek ekonomi Sulteng ke depan. Menurutnya, struktur ekonomi daerah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada APBD, seiring dengan terus berkembangnya sektor industri, perdagangan, dan investasi di wilayah tersebut.
Ia juga menekankan bahwa ketahanan fiskal Sulteng masih tergolong baik, ditandai dengan peningkatan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sulawesi Tengah, lanjutnya, menunjukkan pertumbuhan yang solid di tengah gejolak ekonomi global.
Kinerja Ekonomi dan Sektor Penggerak
Data menunjukkan, ekonomi Sulteng tumbuh 8,32 persen secara tahunan (year-on-year) pada Triwulan I tahun 2026. Namun, secara kuartalan (quarter-to-quarter), ekonomi Sulteng mengalami kontraksi sebesar 6,98 persen dibandingkan Triwulan IV tahun 2025.
Sektor industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi daerah, dengan kontribusi mencapai 43,43 persen terhadap total struktur ekonomi Sulawesi Tengah. Sektor ini juga mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 15,9 persen, didorong oleh peningkatan aktivitas ekspor.
