Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan Sp.KO, mengingatkan adanya risiko berbahaya bagi kesehatan tubuh jika seseorang memaksakan diri berolahraga setelah menjalani ibadah puasa. Menurutnya, adaptasi tubuh terhadap aktivitas fisik perlu dilakukan secara bertahap, terutama setelah periode puasa.
Risiko Kesehatan Akibat Olahraga Berlebihan Setelah Puasa
Andi, lulusan Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa memaksakan diri untuk kembali ke porsi latihan normal atau bahkan lebih tinggi secara mendadak dapat memicu berbagai masalah kesehatan. “Memaksakan diri kembali ke porsi normal atau lebih tinggi secara mendadak meningkatkan risiko mulai dari cedera sampai terkena sindrom overtraining,” kata Andi saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Beberapa risiko cedera yang mungkin terjadi meliputi:
- Cedera Muskuloskeletal: Seperti strain otot, sprain ligamen, atau tendinitis. Ini terjadi akibat beban yang melebihi kapasitas adaptasi jaringan tubuh saat itu.
- Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) Eksperimental: Nyeri atau kaku otot yang sangat hebat, yang dapat mengganggu aktivitas fisik harian.
- Rhabdomyolysis: Kerusakan otot ekstrem yang melepaskan mioglobin ke dalam darah, berpotensi merusak ginjal. “Meskipun jarang, ini bisa terjadi pada aktivitas berlebih tanpa hidrasi cukup,” ujar dokter yang praktik di Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro Jaya itu.
Selain cedera fisik, individu juga berisiko mengalami sindrom overtraining. Sindrom ini ditandai dengan kelelahan kronis yang dapat memicu gangguan tidur dan penurunan imunitas tubuh secara signifikan.
Panduan Olahraga dan Nutrisi Pasca-Puasa
Untuk menghindari risiko-risiko tersebut, Andi menganjurkan masyarakat untuk menaikkan beban atau durasi latihan secara bertahap. Pendekatan ini penting untuk mengembalikan kemampuan tubuh secara aman dan efektif. Selain itu, pengaturan nutrisi yang tepat juga memegang peranan krusial.
“Kembalilah ke pola makan gizi seimbang. Fokus pada karbohidrat kompleks sebagai sumber energi utama untuk mengisi kembali simpanan glikogen otot yang digunakan saat latihan,” jelasnya.
Mengenai asupan protein, Andi mengutip pedoman International Society of Sports Nutrition (ISSN) yang merekomendasikan kebutuhan protein antara 1,6 hingga 2,2 gram per kg berat badan per hari bagi individu yang aktif berolahraga. Distribusi protein juga menjadi kunci penting.
“Apakah harus lebih banyak? Tidak harus lebih banyak dari standar atlet/individu aktif biasanya, namun yang terpenting adalah distribusi protein. Disarankan mengonsumsi 20–40 gram protein berkualitas tinggi setiap 3–4 jam untuk memaksimalkan sintesis protein otot (Muscle Protein Synthesis),” pungkasnya.
