Jagad digital Indonesia dihebohkan dengan dicopotnya sebuah unggahan video dari akun resmi tokoh politik Amien Rais oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada Senin (4/5/2026). Video tersebut memicu polemik lantaran dinilai mengandung ujaran kebencian yang menyasar Presiden Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya.

Langkah Amien Rais tersebut sontak memantik reaksi keras dari Poros Muda NU (PMNU). Koordinator Nasional PMNU, Ramadhan Isa, menyoroti kemiripan pola serangan ini dengan tragedi politik yang pernah menimpa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di masa lalu. “Apa yang dilakukan Pak Amien hari ini membuka kembali memori kolektif kami. Kami teringat bagaimana beliau dan kelompoknya menjatuhkan Gus Dur lewat rentetan serangan personal dan hukum yang tidak pernah terbukti sampai Gus Dur wafat,” tegas Ramadhan Isa, yang akrab disapa Dhani, di Surabaya pada Senin (4/5/2026).

Menurut Dhani, narasi dalam video Amien Rais itu lahir dari sikap gegabah dan tidak berbasis data valid. Ia menilai pernyataan Amien justru terkesan mengumpulkan rumor liar di media sosial untuk dijadikan senjata politik. Sebagai alumni PMII Ciputat, Dhani menekankan bahwa mengumbar kabar burung tanpa proses tabayun atau klarifikasi merupakan langkah mundur bagi demokrasi Indonesia. Kalangan muda Nahdliyin memandang manuver yang menyasar ranah pribadi seorang kepala negara bukan sekadar kritik, melainkan upaya mendelegitimasi pemimpin nasional.

Di tengah gempuran opini negatif tersebut, pihak Istana memilih untuk tetap tenang. Ramadhan Isa mengapresiasi sikap Presiden Prabowo. “Prabowo menunjukkan kelasnya sebagai negarawan. Beliau tidak terpancing atau bereaksi berlebihan meskipun diserang secara personal. Fokusnya tetap pada pelayanan rakyat, dan itu yang kami apresiasi,” ujar Dhani.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengambil langkah tegas dengan memutus akses video di akun Amien Rais Official. Tindakan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai memperketat ruang bagi konten yang mengandung hoaks dan fitnah. Meskipun potongan video tersebut masih tersebar di beberapa platform, dukungan terhadap stabilitas politik mulai mengalir dari berbagai elemen pemuda yang jengah dengan pola politik adu domba.