Polda Riau mengonfirmasi bahwa yang menampilkan pertengkaran antara seorang ibu tiri dan anak tiri di sebuah , yang sempat menghebohkan jagat maya, adalah rekayasa semata. Insiden yang memicu beragam spekulasi dan simpati publik ini dipastikan tidak mengandung unsur kekerasan fisik yang sebenarnya.

Investigasi Kepolisian Ungkap Fakta Sebenarnya

Kepolisian Daerah Riau memulai penyelidikan setelah video tersebut menyebar luas di berbagai platform media sosial pada awal tahun 2026. Banyak warganet yang awalnya merasa prihatin dan mengecam tindakan yang terlihat dalam video, mendorong pihak berwajib untuk menelusuri kebenaran di balik tayangan tersebut.

Setelah serangkaian pemeriksaan dan pengumpulan bukti, identitas kedua individu yang terlibat dalam video, yakni seorang wanita dewasa yang berperan sebagai ibu tiri dan seorang remaja yang berperan sebagai anak tiri, berhasil diidentifikasi. Keduanya kemudian dimintai keterangan oleh penyidik.

“Kami telah memeriksa kedua belah pihak yang terlibat dalam video tersebut. Mereka mengakui bahwa adegan pertengkaran itu adalah rekayasa semata untuk menarik perhatian di media sosial,” ujar Kompol Budi Santoso, Kepala Bidang Humas Polda Riau, Rabu (15/4/2026).

Motif di Balik Konten Rekayasa

Dari hasil pemeriksaan, terungkap bahwa motif di balik pembuatan video tersebut adalah untuk meningkatkan popularitas dan engagement di media sosial, dengan harapan dapat berujung pada monetisasi. Kedua pelaku secara sadar merencanakan dan merekam adegan konflik tersebut di area kebun sawit.

Kompol Budi Santoso menambahkan bahwa polisi tidak menemukan adanya unsur pidana kekerasan fisik dalam kasus ini, mengingat semua adegan telah diakui sebagai bagian dari skenario. Meskipun demikian, pihak kepolisian memberikan peringatan keras kepada para pelaku terkait potensi penyebaran informasi palsu atau menyesatkan yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat.

Fenomena Konten Rekayasa dan Imbauan untuk Masyarakat

Kasus ini kembali menyoroti fenomena “clickbait” dan pencarian popularitas instan di media sosial yang kerap dilakukan dengan cara-cara yang tidak etis. Banyak kreator konten yang rela membuat skenario dramatis atau kontroversial demi menarik perhatian publik, tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan.

Polda Riau mengimbau masyarakat untuk lebih kritis dan bijak dalam menyaring setiap informasi atau konten yang beredar di media sosial. “Jangan mudah percaya pada setiap tayangan viral. Penting untuk selalu memverifikasi kebenaran informasi sebelum menyebarkannya lebih lanjut,” tegas Kompol Budi Santoso.