Duel klasik antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung pada pekan ke-32 Super League, Minggu (10/5), dipastikan tidak akan digelar di Jakarta. Macan Kemayoran harus menjamu rival abadinya tersebut di Stadion Segiri, Samarinda, sebuah keputusan yang memicu sorotan tajam dari Pelatih Persija, Mauricio Souza.

Souza secara terbuka menyatakan kekecewaannya atas pemindahan lokasi pertandingan. Pelatih asal Brasil itu juga menyoroti kondisi lapangan Stadion Segiri yang dinilainya jauh dari standar ideal untuk sebuah pertandingan penting. Ia berharap timnya bisa bermain di hadapan pendukung sendiri di Jakarta, khususnya di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).

Kualitas Lapangan dan Kekecewaan Pelatih

Mauricio Souza membandingkan kualitas lapangan GBK dengan Stadion Segiri. Menurutnya, GBK menawarkan kondisi yang jauh lebih baik untuk pertandingan. “Kondisi lapangan (GBK) jauh lebih baik dibanding tempat kami bermain nanti (Segiri). Namun, keputusan sudah dibuat dan kami tidak punya kendali atas itu,” ujar Souza, mengungkapkan rasa frustrasinya.

Meski demikian, Souza menegaskan bahwa Persija tidak akan larut dalam kekecewaan. Ia meminta anak asuhnya untuk tetap fokus dan mengerahkan seluruh kemampuan demi meraih kemenangan atas Persib. “Tugas kami sekarang pergi ke sana dan memberikan yang terbaik,” tambahnya, memotivasi skuadnya.

Drama Laga Klasik dan Sejarah Panjang

Laga Persija kontra Persib memang kerap diwarnai drama di luar lapangan, termasuk masalah venue pertandingan. Ini bukan kali pertama Macan Kemayoran gagal menjamu Maung Bandung di kandang sendiri di Jakarta. Padahal, awalnya duel ini direncanakan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Persija Jakarta tercatat sudah sangat lama tidak merasakan atmosfer menjamu Persib di Jakarta. Terakhir kali momen tersebut terjadi adalah pada 10 Juli 2019, atau sekitar tujuh tahun silam. Kini, sejarah kembali berulang dengan Persija harus menjamu Persib di Stadion Segiri Samarinda, jauh dari basis pendukungnya.