Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada Selasa, 14 April 2026, memperingatkan bahwa gangguan pelayaran di Selat Hormuz berpotensi memicu krisis pangan global. Kondisi ini dikhawatirkan terjadi akibat terhambatnya pasokan pupuk dan energi, yang pada gilirannya dapat mendorong kenaikan harga pangan secara signifikan.
Dalam pernyataan resminya pada Senin, FAO mendesak agar kapal-kapal pengangkut pupuk dan energi segera dapat melintas kembali di Selat Hormuz. Langkah ini krusial untuk mencegah gangguan pasokan yang lebih berkepanjangan dan dampaknya terhadap ketahanan pangan dunia.
Negara Miskin Paling Rentan Terdampak
Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, menekankan bahwa waktu sangat penting dalam situasi ini. Ia menyoroti bahwa negara-negara miskin menjadi pihak yang paling rentan terdampak, mengingat ketergantungan mereka pada pasokan pupuk dan energi untuk musim tanam.
Torero menambahkan, jika gangguan berlanjut, hasil panen tahun depan berpotensi menurun drastis, yang kemudian akan memicu kenaikan harga pangan. Situasi ini dapat mendorong pemerintah di berbagai negara untuk mengambil langkah-langkah intervensi guna menekan harga di dalam negeri.
FAO mencatat bahwa harga pangan global pada Maret masih relatif stabil berkat pasokan gandum dan serealia yang cukup. Namun, tekanan harga diperkirakan akan mulai meningkat pada April dan Mei jika masalah di Selat Hormuz tidak segera teratasi.
Ancaman Bencana Pasokan
Senada dengan Torero, Kepala Divisi Ekonomi FAO, David Laborde, mengingatkan bahwa dunia saat ini sudah menghadapi masalah pasokan bahan-bahan penting. Ia menegaskan pentingnya mencegah situasi ini berubah menjadi bencana yang lebih besar.
Untuk mengatasi potensi krisis, FAO mendesak negara-negara untuk tidak membatasi ekspor energi dan pupuk. Selain itu, badan PBB tersebut juga menyarankan kehati-hatian dalam penggunaan bahan bakar nabati, karena dapat mengurangi pasokan pangan yang sudah terbatas.
FAO juga merekomendasikan pemanfaatan bantuan keuangan internasional, termasuk dari Dana Moneter Internasional (IMF), untuk membantu negara-negara yang membutuhkan pupuk dengan cepat dan mendesak.
Data FAO menunjukkan bahwa sekitar 20 hingga 45 persen pasokan bahan penting untuk pertanian melewati Selat Hormuz. Angka ini mengindikasikan bahwa gangguan sekecil apa pun di jalur pelayaran vital tersebut dapat menimbulkan dampak besar pada harga komoditas global.
Badan tersebut juga memperingatkan bahwa risiko krisis pangan bisa semakin besar jika kondisi cuaca ekstrem seperti El Nino semakin menguat, menambah tekanan pada sistem pangan global yang sudah rentan.
