Ketika gema takbir bersahut-sahutan membelah langit fajar, menandai kemenangan umat Muslim di Hari Raya Idulfitri 2026, Muhammad Abdul Rokim (47) justru harus berjibaku memacu kendaraannya. Alih-alih menikmati hidangan opor dan ketupat bersama keluarga, ia berbalut seragam lapangan, memastikan jutaan jiwa tetap terhubung di hari yang fitri.

Bagi bapak tiga anak ini, Lebaran tahun ini adalah tentang deret angka dan kecepatan sinyal yang harus dijaga. Pundaknya memikul tanggung jawab esensial: mengawal keandalan jaringan internet, memburu, dan menambal titik-titik buta sinyal di wilayah Banyuwangi dan sekitarnya, yang dijuluki Bumi Blambangan.

Menjelang Idulfitri 2026, Rokim diutus menjadi ‘penjaga gawang’ jaringan internet. Ia menyusuri ruas Tol Surabaya hingga Situbondo, singgah dari satu rest area ke rest area lainnya untuk memastikan koneksi internet di sana prima. “Kalau dibilang sedih ya sedih lah gak bisa lebaran sama keluarga. Tapi mau gimana lagi? Namanya juga tugas,” ujarnya kepada jatimnow.com, akhir pekan lalu.

Mata Rokim dituntut jeli memantau potensi kepadatan lalu lintas data internet di tempat-tempat krusial. Selain ruas tol yang menjadi jalan pulang jutaan jiwa, ia juga harus menjaga keandalan internet di Pelabuhan Ketapang yang tak pernah tidur, stasiun kereta api, hingga padatnya destinasi wisata di kota berjuluk Sunrise of Java. Ketika grafis kecepatan internet menemukan hambatan, pria kelahiran Malang ini dituntut cekatan memperbaiki keadaan, mengurai benang kusut jaringan agar lalu lintas data kembali lancar.

Paradoks kehidupannya memuncak tepat pada hari Lebaran. Rokim hanya bisa melepas rindu melalui layar gawai berukuran sekitar enam inci. Lewat sambungan video call, ia menatap senyum istri dan ketiga anaknya yang berjarak ratusan kilometer di Kabupaten Malang. “Ya lumayan lah istilahnya jadi obat rindu bisa video call sama anak istri. Maunya sih ngumpul, tapi kan ada tugas kerjaan yang gak bisa ditinggalkan,” ucapnya. Pria yang akrab disapa Cak Rokim itu baru bisa berkumpul dengan keluarga pada H+4 Idulfitri 2026.

Travoy: Kompas Digital di Tengah Hiruk Pikuk Mudik

Menyusuri ratusan kilometer jalanan di musim mudik yang sukar ditebak tentu menguras peluh dan energi. Namun, dengan mobilitasnya yang luar biasa tinggi, Rokim mengaku tak merasa berjuang sendirian. Di tengah jalanan yang asing, ia menemukan karib setia dalam bentuk digital, bernama aplikasi Travoy yang merupakan besutan PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Bagi Rokim, aplikasi tersebut laksana kompas yang meringankan beban kerjanya. Lewat Travoy, ia bisa mengintip kondisi lalu lintas jalan tol secara langsung melalui fitur CCTV sebelum melintas, melacak titik-titik rest area, mengkalkulasikan tarif tol, hingga membaca berita-berita terbaru seputar kepadatan arus lalu lintas. Semuanya bisa diakses dalam satu genggaman.

Apa yang dialami Rokim sesungguhnya adalah potret kecil dari sebuah fenomena besar. Di tengah lautan kendaraan yang memadati ruas-ruas aspal Nusantara menjelang Idulfitri, kelancaran perjalanan tak lagi sekadar bergantung pada insting dan kemudi. Asisten digital telah menjelma menjadi kebutuhan krusial.

Kehadiran aplikasi Travoy menjadi salah satu buktinya. Sepanjang periode angkutan mudik dan balik Lebaran, antara 11 hingga 31 Maret 2026, aplikasi ini mencatat rekor antusiasme luar biasa. Travoy tak ubahnya ‘kompas’ yang senantiasa dipercaya menuntun para pelintas batas menuju tujuannya dengan aman dan nyaman.

“Fitur CCTV jalan tol real time menjadi fitur yang paling favorit dengan 3,59 juta kali diakses. Ini menunjukkan kebutuhan pengguna jalan untuk memantau kondisi lalu lintas secara real-time sehingga dapat menentukan waktu dan rute perjalanan yang lebih optimal, terutama saat arus mudik dan balik lebaran,” kata Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono.

Melalui lebih dari 3.500 kamera pengintai yang tersebar di seluruh urat nadi jalan tol Jasa Marga Group, pengguna tak lagi harus meraba-raba dalam ketidakpastian. Mereka bisa mengintip kondisi rute sebelum benar-benar memasukinya.

Rivan menambahkan, secara keseluruhan, terdapat lima fitur yang paling diminati pengguna Travoy selama periode tersebut: CCTV jalan tol real time, tarif tol, peta, rest area, dan resi digital. Setelah CCTV, fitur tarif tol diakses sebanyak 500 ribu kali, peta 240 ribu kali, informasi rest area 138 ribu kali, dan resi digital 103 ribu kali. Data ini membuktikan bahwa Travoy telah berevolusi dari sekadar papan informasi digital menjadi sarana edukasi yang memfasilitasi pengguna meracik skenario perjalanan secara efektif dan efisien.

Menyadari ritme mobilitas yang kian dinamis, Jasa Marga telah memperbarui aplikasi ini ke versi 4.9.2 khusus untuk Android dan iOS pada Februari 2026, sebulan sebelum arus mudik bergulir. Pembaruan ini membawa persenjataan baru yang sangat relevan, mulai dari kehadiran Travoy Pay yang memangkas kerumitan transaksi multi-biller hingga urusan isi ulang saldo e-toll, fitur Route Finder untuk mencari jalan tikus dan rute terbaik, hingga pelacak lokasi SPBU dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Fitur pendukung lainnya meliputi Red Zone sebagai informasi titik rawan kecelakaan, serta framing CCTV pada menu Traffic Info yang menyesuaikan otomatis dengan kejadian tertentu seperti rekayasa atau gangguan lalu lintas.

Pengorbanan Cak Rokim adalah satu dari sekian banyak kisah sunyi di balik hingar-bingar perayaan Lebaran. Ketika jutaan pasang mata bisa dengan mudah bertatap muka secara virtual tanpa jeda dengan sanak saudara, ingatlah, ada sosok-sosok sepertinya yang berada di garda terdepan pengamanan jaringan. Ia rela menahan rindunya sendiri, demi memastikan sesamanya tetap terhubung tanpa batas.