Pihak pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dompu Matua, Kecamatan Woja, secara resmi membantah informasi yang beredar di media sosial terkait menu makanan serta sistem pembagian yang disebut-sebut tidak sesuai standar. Klarifikasi ini disampaikan menyusul protes dari sejumlah wali murid di SDN 17 Woja.
Pemilik Yayasan Bintang Fauzan Perdana, Papy Daus, di Dompu pada Rabu (5/3/2026), menegaskan bahwa seluruh menu yang disajikan telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) dan ketentuan program yang berlaku. “Menu yang kami sajikan sudah sesuai dengan standar operasional yang berlaku. Kami memastikan kualitas bahan, kebersihan proses pengolahan, serta kandungan gizi tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Terkait isu pembagian makanan secara dobel, Papy Daus menjelaskan bahwa kebijakan tersebut dilakukan secara terencana dan bukan akibat kesalahan distribusi. “Pemberian dobel memang kami lakukan selama dua hari, yaitu Jumat dan Sabtu. Hal itu sudah menjadi bagian dari SOP internal yang kami terapkan,” katanya.
Menurutnya, kebijakan tersebut telah melalui pertimbangan teknis dan disesuaikan dengan kebutuhan serta jadwal sekolah penerima manfaat. Pengelola juga menanggapi informasi mengenai perbedaan nilai harga menu di sejumlah lokasi sekolah atau tingkatan kelas.
“Menu yang kami sajikan memiliki variasi nilai, ada yang Rp10.000 dan ada yang Rp8.000. Perbedaan tersebut disesuaikan dengan ketentuan serta kondisi masing-masing sekolah dan tingkatan kelas,” tambah Papy Daus. Meski terdapat perbedaan nilai anggaran, ia memastikan standar kualitas dan kelayakan gizi tetap menjadi acuan utama dalam setiap penyajian.
Pihak MBG Dompu Matua menilai informasi yang beredar tanpa konfirmasi langsung kepada pengelola berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat diimbau agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Pengelola juga menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan pelayanan sesuai standar yang ditetapkan serta melakukan evaluasi berkala guna meningkatkan kualitas layanan.
Penjelasan Ahli Gizi Terkait Standar Menu
Sementara itu, ahli gizi yang mengawasi dapur MBG tersebut, Fitria Rizky Dwi Putri, menjelaskan bahwa penilaian menu MBG tidak dapat dilakukan hanya dari tampilan visual atau jumlah porsi. Menurutnya, setiap paket disusun berdasarkan perhitungan kebutuhan gizi anak usia sekolah dasar yang mencakup energi, protein, lemak, dan karbohidrat.
“Kurma berfungsi sebagai sumber energi cepat dan mineral, roti atau kue sebagai karbohidrat, sementara tempe dan kacang merupakan sumber protein nabati. Seluruhnya dihitung agar memenuhi kecukupan gizi sesuai pedoman,” ujarnya.
Fitria menambahkan, pedoman dari Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan ruang variasi menu dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Keberadaan sayur atau lauk hewani, kata dia, tidak harus muncul pada setiap kali penyajian, melainkan diatur melalui rotasi menu harian dan mingguan agar keseimbangan gizi tercapai secara menyeluruh. “MBG merupakan intervensi gizi terukur, bukan pengganti makan utama. Evaluasi dilakukan dalam satu siklus menu, sehingga kecukupan gizi dinilai secara kumulatif,” katanya.
Sebelumnya, menu dapur SPPG tersebut sempat viral karena diprotes wali murid di SDN 17 Woja. Menu yang hanya berisi kurma, roti, tempe, dan sambal kacang dinilai tidak profesional dan tidak sesuai standar operasional yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
sumber gambar: kilatnews.co
