MAKASSAR – Tim peneliti Unhas Fly Research Group (UFRG) Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkenalkan lalat buah, Drosophila melanogaster, sebagai model riset strategis dalam berbagai bidang. Pengenalan ini dilakukan melalui webinar internasional “Fly Research Group Outreach 2026” yang berlangsung di Makassar pada Selasa, 10 Februari 2026.
Model biologis ini dinilai sangat potensial untuk menjawab pertanyaan besar dalam genetika, biologi perkembangan, hingga riset penyakit dan pengembangan terapi.
Prof Firzan Nainu SSi PhD Apt dari Fakultas Farmasi Unhas menjelaskan bahwa Drosophila melanogaster merupakan model biologis yang sangat kuat untuk memahami mekanisme biologi dan kesehatan manusia. Ia menyoroti kesamaan genetik yang signifikan, di mana sekitar 75 persen gen manusia yang terkait penyakit memiliki pasangan fungsional pada lalat buah.
Kesamaan ini tidak hanya mencakup struktur gen, tetapi juga fungsi biologis dan mekanisme seluler. Hal ini menjadikan Drosophila sangat efektif sebagai model screening untuk memahami mekanisme berbagai penyakit manusia, seperti kanker, gangguan metabolik, penyakit degeneratif, dan proses inflamasi.
Menurut Prof Firzan, rencana tubuh organisme dikendalikan oleh program genetik yang bekerja melalui jaringan gen hierarkis. Program ini bersifat evolusioner dan terkonservasi lintas spesies, sehingga temuan pada Drosophila relevan untuk menjelaskan berbagai kondisi kesehatan manusia.
Senada, Prof Toshiyuki Takano dari Kyoto Drosophila Stock Center, Kyoto Institute of Technology Jepang, menekankan pentingnya pemanfaatan koleksi Drosophila. Menurutnya, hal ini memungkinkan kajian penyakit secara lebih sistematis, terintegrasi, dan efisien.
Pendekatan ini juga menjembatani berbagai disiplin ilmu, mulai dari genetika, biologi sel, biomedis, hingga pengembangan terapi.
Webinar ini juga menghadirkan Assoc. Prof Karyn Johnson dari The University of Queensland, Australia. Ia menjelaskan bahwa pemahaman interaksi antara inang dan virus adalah kunci penting dalam pengendalian penyakit infeksi, khususnya yang ditularkan melalui vektor serangga.
Drosophila melanogaster memiliki peran strategis sebagai model organisme karena kemudahan manipulasi genetik serta kemiripan mekanisme imun dasarnya dengan organisme tingkat tinggi. Prof Karyn mengungkapkan, sekitar 15 persen penyakit infeksi pada manusia ditularkan melalui serangga, terutama nyamuk, sebagai vektor berbagai patogen berbahaya.
Dalam konteks tersebut, Drosophila digunakan sebagai model eksperimental untuk mengkaji bagaimana virus berinteraksi dengan sistem imun inang.
“Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi jalur molekuler dan respons imun yang berperan dalam membatasi maupun memfasilitasi infeksi virus. Temuan-temuan dari penelitian berbasis Drosophila diharapkan dapat menjadi landasan penting dalam memahami proses serupa,” jelas Prof Karyn.
Menutup pemaparannya, Prof Karyn menyimpulkan bahwa molekul microRNA (miRNA) memiliki dampak fungsional yang luas terhadap proses infeksi virus. Pengaruh miRNA dapat bersifat spesifik terhadap jenis virus tertentu maupun bersifat umum terhadap berbagai virus, sehingga pemahaman mengenai peran miRNA membuka peluang pengembangan strategi pengendalian penyakit berbasis molekuler yang lebih efektif di masa depan.
Ketua panitia webinar, Mukarram Mudjahid MSi Apt, menambahkan bahwa “Outreach 2026” tidak hanya bertujuan memberikan pemahaman ilmiah. Kegiatan ini juga dirancang untuk membangun soft skills, kepemimpinan akademik, dan kapasitas implementasi riset di masing-masing institusi.
Tercatat, sebanyak 11 universitas di luar Unhas menyatakan minat untuk terlibat. Kegiatan ini diikuti oleh 13 dosen perwakilan kampus serta sekitar 100 mahasiswa berlatar belakang Farmasi.
