Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) secara resmi memulai program Imunisasi Darurat atau Outbreak Response Immunization (ORI) campak. Program ini menyasar bayi dan balita di seluruh puskesmas di tiga daerah yang tengah menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, yakni Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu.
Kepala Dinas Kesehatan NTB, Lalu Hamzi Fikri, di Mataram pada Kamis, 13 Maret 2026, menjelaskan bahwa imunisasi darurat ini bertujuan krusial untuk memutus rantai penularan campak, khususnya pada kelompok usia paling rentan. “Prioritas ORI diberikan bagi bayi dan balita berusia sembilan sampai dengan 59 bulan,” tegas Fikri.
Fikri menambahkan, pemerintah juga memperkuat surveilans aktif serta pelacakan kontak hingga tingkat desa dan puskesmas. Langkah ini diambil guna mempercepat penemuan kasus campak dan mencegah penyebaran yang lebih luas di masyarakat.
Data terkini dari Dinas Kesehatan NTB hingga pekan ketujuh tahun 2026 mencatat adanya 985 kasus suspek campak yang tersebar di Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu. Selain imunisasi, penanganan kasus juga melibatkan pemberian vitamin A. “Langkah penanganan juga dilakukan dengan pemberian vitamin A pada kasus campak untuk mencegah komplikasi dan menurunkan risiko kematian,” ujar Fikri.
Dalam upaya pencegahan dan penanganan, Pemprov NTB turut mengintensifkan edukasi kepada masyarakat. Edukasi ini mencakup pengenalan gejala campak, pentingnya imunisasi lengkap, serta imbauan agar segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam disertai batuk, pilek, dan ruam.
Pemerintah juga memastikan ketersediaan logistik penanganan KLB, mulai dari vaksin, vitamin A, hingga dukungan tata laksana klinis di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Penguatan fasilitas kesehatan dilakukan dengan penerapan sistem triase untuk memisahkan pasien suspek campak yang menunjukkan gejala demam, ruam, batuk, atau pilek di instalasi gawat darurat maupun layanan rawat jalan.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada, serta berperan aktif dalam memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal guna memutus rantai penularan campak,” pungkas Lalu Hamzi Fikri.
