Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), serius mewujudkan Kecamatan Poto Tano sebagai lumbung hortikultura. Langkah ini ditandai dengan pengembangan tanaman melon hidroponik yang telah memasuki masa panen perdana.
Poto Tano: Dari Gerbang Penyeberangan Menuju Pusat Hortikultura
Bupati Sumbawa Barat, H Amar Nurmansyah, menyatakan bahwa Poto Tano tidak lagi hanya dikenal sebagai gerbang penyeberangan. Ke depan, wilayah ini diproyeksikan menjadi pusat hortikultura baru di NTB.
“Wilayah Kecamatan Poto Tano tak lagi sekadar gerbang penyeberangan, ke depan bisa menjadi pusat hortikultura baru,” ujar Bupati Amar Nurmansyah saat menghadiri panen perdana melon hidroponik sistem machida di Pusat Edukasi Agrowisata Pertanian Terintegrasi, Sumbawa Barat, Sabtu (29/03/2026).
Dalam panen perdana tersebut, empat varietas melon unggulan berhasil dipanen, yaitu Apollo F1, Suny F1, Sweet Hamy, dan Lavender. Hasil ini berasal dari demplot yang dikembangkan di lokasi tersebut.
Visi Besar dan Dukungan Pemkab
Pengembangan melon hidroponik ini merupakan bagian dari target besar Pemkab Sumbawa Barat untuk menjadikan Poto Tano sebagai lumbung hortikultura daerah. Hal ini sejalan dengan program “Kartu Sumbawa Barat Maju Luar Biasa” yang berfokus pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
“Langkah ini menjadi awal dari target besar menjadikan Poto Tano sebagai lumbung hortikultura daerah, sejalan dengan program kartu Sumbawa Barat maju luar biasa pada sektor pertanian, peternakan dan perikanan,” tegas Bupati.
Amar Nurmansyah juga mengingatkan bahwa pengembangan tidak boleh berhenti pada produksi semata. Ia menekankan pentingnya mengisi pasar yang sudah terbuka dengan komoditas lokal.
“Saya meminta jajaran terkait segera memetakan kelompok tani agar usaha yang dikembangkan benar-benar sesuai kebutuhan pasar dan berorientasi bisnis,” pintanya.
Selain itu, Pemkab juga mengarahkan perhatian pada pengemasan produk dan mendorong perubahan pola bertani dari tradisional menjadi lebih modern dan bernilai ekonomi tinggi. Dukungan alat pertanian pun dipastikan akan dikelola bersama agar dapat dimanfaatkan seluruh petani tanpa menimbulkan kecemburuan.
“Pemerintah daerah memastikan dukungan alat pertanian akan dikelola bersama agar bisa dimanfaatkan seluruh petani tanpa memicu kecemburuan,” imbuhnya.
Peluang Agrowisata Berbasis Hortikultura
Ke depan, pengembangan ini tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga membuka peluang agrowisata berbasis hortikultura. Model ini akan mengintegrasikan produksi, edukasi, dan wisata dalam satu ekosistem.
“Pemerintah daerah akan terus mendukung selama ada keseriusan dari para petani,” pungkas Amar Nurmansyah, menegaskan komitmen Pemkab terhadap para petani.
