Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Pemkab Parimo), Sulawesi Tengah, memperkuat penanganan bencana non-alam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui bimbingan teknis (bimtek). Langkah ini diambil mengingat peristiwa karhutla yang terjadi secara berulang di daerah tersebut, bahkan menjadi atensi nasional.
Sekretaris Daerah (Sekda) Parigi Moutong, Zulfinasran, menyampaikan bahwa eskalasi karhutla terakhir terjadi pada Februari 2026. “Eskalasi karhutla terjadi pada Februari 2026, peristiwa itu berulang selang beberapa bulan pada lahan-lahan mengalami kekeringan,” ujar Zulfinasran saat menghadiri bimtek pencegahan karhutla di Parigi, Selasa (7/4/2026).
Zulfinasran menjelaskan bahwa Parigi Moutong termasuk daerah dengan potensi bencana karhutla yang cukup tinggi. Dampak yang ditimbulkan akibat bencana ini sangat besar, meliputi gangguan kesehatan, terhambatnya aktivitas perekonomian masyarakat, hingga kerusakan ekologi.
Guna meredam eskalasi karhutla, Pemkab Parigi Moutong berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan. Fokus utama adalah penguatan sistem mitigasi bencana, termasuk karhutla, melalui kolaborasi lintas sektor. Masyarakat juga diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar hutan, mengingat risiko tinggi ditambah kondisi cuaca ekstrem.
“Jika masyarakat menemukan aktivitas pemakaian lahan segera laporkan kepada pemerintah daerah (pemda) maupun aparat kepolisian,” tegas Zulfinasran. Ia menambahkan bahwa pencegahan karhutla memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemda, TNI/Polri, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan, karena kebakaran dipicu oleh berbagai faktor, termasuk cuaca.
Pelestarian lingkungan menjadi salah satu kata kunci dalam mitigasi bencana. Oleh karena itu, setiap masyarakat harus memiliki pola pikir untuk merawat dan menjaga ekosistem alam. “Upaya pelestarian lingkungan dan pencegahan karhutla harus menjadi bagian dari gerakan bersama, hingga ke tingkat desa,” ucap Zulfinasran.
Tantangan Pemadaman di Lahan Kering Pegunungan
Zulfinasran juga menyoroti pentingnya pola pemadaman api, terutama karena sebagian besar karhutla terjadi pada lahan kering di atas gunung. Kondisi ini menuntut teknologi mumpuni dan rekayasa peralatan yang memadai dalam penanganan.
“Beberapa kali karhutla berturut-turut terjadi model pemadaman api secara konvensional menggunakan armada pemadam tidak efektif dilakukan pada posisi kondisi tertentu, seperti kebakaran di atas gunung yang tidak memiliki akses jalan. Metode pemadaman menggunakan alat manual menggunakan tangki semprot, dan metode itu sangat efektif di lapangan,” jelasnya.

