Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat sebanyak 114 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah beroperasi hingga Januari 2026. Dapur-dapur ini tersebar di 12 kecamatan dan melayani lebih dari 320 ribu warga.

Ketua Sekretariat Satgas MBG Lombok Tengah, Lalu Setiawan, menjelaskan bahwa total SPPG yang telah terbangun di wilayahnya mencapai 149 titik. “Dapur MBG yang telah beroperasi itu sebanyak 114 titik di 12 kecamatan di Lombok Tengah,” kata Lalu Setiawan di Lombok Tengah, Kamis (5/2/2026).

Ia menambahkan, sebanyak 35 SPPG lainnya belum dapat beroperasi karena masih menunggu alokasi anggaran dari Badan Gizi Nasional (BGN). “Yang belum beroperasi itu 35 SPPG dan tinggal menunggu anggaran dari Badan Gizi Nasional (BGN),” ujarnya.

Dari 114 SPPG yang telah aktif, program ini menyasar 320.860 orang. Rinciannya, 299.652 adalah pelajar, sementara 32.142 lainnya merupakan kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B). Lalu Setiawan juga mengungkapkan bahwa sasaran Program MBG kini tidak hanya terbatas pada pelajar, tetapi juga mencakup guru atau pegawai di sekolah.

Dengan perluasan sasaran ini, jumlah SPPG di Lombok Tengah berpotensi bertambah. “Bisa bertambah, yang jelas saat ini ada 114 SPPG yang telah beroperasi,” tegas Lalu Setiawan, sembari menyebutkan bahwa proses pemetaan sasaran Program MBG sedang berlangsung.

Sinergi Provinsi dan Dampak Ekonomi

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB bersama Badan Gizi Nasional (BGN) telah memperkuat sinergi dan kolaborasi dari hulu ke hilir guna mempercepat pelaksanaan Program MBG di seluruh wilayah NTB. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan dukungan penuh Pemprov terhadap program ini sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto.

“Saat ini kita memasuki fase bagaimana memastikan praktek dan standar-standar dalam Program MBG di NTB itu terpenuhi dengan baik,” ucap Gubernur Iqbal.

Menurut Iqbal, jumlah SPPG atau dapur MBG yang telah terbangun di NTB secara keseluruhan telah melampaui target awal 600 unit, dengan total mencapai lebih dari 600 unit. Ia menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan untuk memastikan program menjangkau seluruh warga yang membutuhkan.

“Kalau masih ada warga kita yang belum terjangkau karena mungkin data kita tidak valid, kita akan evaluasi kembali. Karena tujuan program ini sangat baik dalam menyelesaikan program gizi anak kita dan menggerakkan ekonomi lokal. Bayangkan Rp5,7 triliun uang yang beredar di masyarakat kita dari MBG ini,” pungkas Lalu Muhamad Iqbal.