Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengkritik Presiden Prancis Emmanuel Macron karena dinilai mengabaikan serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Kritik ini muncul di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Macron sebelumnya menyatakan di media sosial bahwa ia telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump dan Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani mengenai serangan Iran terhadap fasilitas gas di Qatar. Dalam pernyataannya, Macron menyerukan larangan serangan terhadap infrastruktur sipil.
Namun, Araghchi menilai sikap Macron tidak konsisten dan bias. “Macron tidak mengucapkan satu kata pun untuk mengutuk perang Israel-AS terhadap Iran. Ia juga tidak mengecam Israel saat meledakkan tangki bahan bakar di Teheran yang membahayakan jutaan orang. Kekhawatirannya sekarang muncul setelah Iran membalas. Menyedihkan!” tulis Araghchi di platform X.
Pada Rabu, perusahaan energi milik negara Qatar, QatarEnergy, melaporkan serangan rudal dan kebakaran di kawasan industri Ras Laffan di utara negara itu, yang merupakan lokasi kompleks produksi gas alam cair terbesar Qatar. Iran sebelumnya telah memperingatkan akan menargetkan infrastruktur energi di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sebagai balasan atas serangan Israel dan AS terhadap ladang gas South Pars.
Konflik memanas setelah pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Pada awalnya, AS dan Israel menyatakan serangan tersebut sebagai langkah “pencegahan” terhadap ancaman program nuklir Iran. Namun, kemudian keduanya juga menyatakan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.
