Pemerintah Turki secara resmi memutuskan untuk membatasi sementara ekspor sejumlah komoditas pangan strategis. Langkah ini diambil guna menekan kenaikan harga di pasar domestik yang dipicu oleh spekulasi, di tengah memanasnya ketegangan di Timur Tengah akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Kementerian Pertanian dan Perhutanan Turki mengonfirmasi pembatasan ini kepada RIA Novosti pada Rabu (18/3). “Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian telah membatasi ekspor daging ayam, telur, kacang arab, dan kacang-kacangan,” demikian pernyataan kementerian tersebut.
Selain komoditas tersebut, izin ekspor untuk “daging sapi dan kambing, minyak bunga matahari, biji minyak, kacang lentil hijau dan lentil merah” juga tidak akan dikeluarkan untuk sementara waktu. Kebijakan ini bertujuan menjaga inflasi tetap terkendali, mendukung produsen lokal, serta menstabilkan harga di pasar domestik.
Menurut data dari Institut Statistik Turki (TUIK), tingkat inflasi tahunan di negara tersebut tercatat sebesar 31,53 persen hingga akhir Februari 2026. Angka ini menjadi salah satu pendorong utama pemerintah mengambil langkah intervensi pasar.
Untuk lebih menekan harga dan memastikan pasokan, Pemerintah Turki juga mendorong impor dengan mengurangi tarif. Sebagai contoh, tarif nol persen diberlakukan untuk impor sekitar satu juta ton minyak bunga matahari hingga akhir Mei 2026. Mengingat hasil panen yang kurang memuaskan, tarif impor kacang lentil hijau didiskon menjadi 10 persen dari sebelumnya 19,3 persen hingga akhir April. Tarif impor lemon juga dipangkas dari 54 persen menjadi 10 persen hingga akhir Juli.
Tidak hanya itu, tarif impor sereal haver (oat) yang semula 130 persen diturunkan menjadi 30 persen hingga akhir April, dengan syarat komoditas tersebut digunakan untuk produksi muesli, biskuit, dan havermut.
Koran Ekonomim melaporkan bahwa kenaikan harga material mentah serta gangguan pada rantai produksi dan pelayaran maritim akibat ketegangan di Timur Tengah telah menyebabkan terhentinya produksi di sejumlah pabrik di Turki. Kondisi ini bahkan memaksa sebagian pabrik untuk meliburkan buruhnya lebih awal.
Banyak perusahaan yang bergerak di sektor plastik terdampak parah, mengingat harga material mentah polimer melonjak sekitar 60-80 persen, sementara biaya logistik membengkak hingga 70 persen.
