Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengimbau seluruh warganya untuk secara aktif mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi. Imbauan ini dikeluarkan sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup di tengah peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat.

Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, menegaskan pentingnya kesadaran lingkungan. “Mari tingkatkan ibadah sambil menjaga kualitas lingkungan hidup agar tetap Aman, Sehat, Resik, Indah (ASRI),” kata Hadianto di Palu, Senin (2/3/2026).

Imbauan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor XX/500.9.14.2/II/KADIS DLH tentang Pelaksanaan Bulan Suci Ramadhan 1447 H/Tahun 2026 Minim Sampah Plastik. Edaran ini secara spesifik mengatur berbagai aspek penggunaan plastik dalam keseharian warga.

Panduan Ramadan Minim Plastik dari Pemkot Palu

Masyarakat diimbau untuk mengutamakan penggunaan wadah guna ulang saat berburu takjil dan kuliner Ramadan. Hal ini bisa dilakukan dengan membawa tempat makan sendiri dari rumah atau memilih kemasan ramah lingkungan saat membeli lauk dan takjil basah.

Selain itu, warga diminta meminimalkan penggunaan barang sekali pakai yang sering ditemukan selama Ramadan, seperti styrofoam, plastik mika, sedotan, kantong kresek, dan kemasan saset.

Untuk kegiatan di masjid dan musala, pengurus tempat ibadah disarankan menyediakan gelas kaca atau plastik tebal yang dapat dicuci ulang, menggantikan gelas plastik sekali pakai. Fasilitas air galon isi ulang juga dianjurkan untuk mengurangi penggunaan botol minuman kemasan, sementara jemaah diimbau membawa tumbler pribadi saat salat tarawih maupun kajian.

Pemerintah juga mengimbau agar dilakukan pemilahan sampah di area pedagang dan masjid menjadi tiga kategori utama. Kategori tersebut meliputi sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, dan daun untuk kompos; anorganik yang dapat didaur ulang seperti botol plastik, kaleng, dan kertas bersih; serta residu yang tidak dapat diolah kembali.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ibnu Mundzir, menambahkan bahwa Kota Palu saat ini gencar melakukan pembatasan penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Upaya ini berlaku di berbagai sektor, mulai dari pusat perbelanjaan, pusat kuliner, perkantoran, hingga rumah tangga.

“Kami terus berbenah di bidang kebersihan, karena Palu saat ini sedang gencar menata kawasan perkotaan supaya daerah ini lebih tertib, nyaman, aman dikunjungi semua orang dan memiliki nilai estetika yang baik,” ujar Ibnu Mundzir.

Menurut data DLH Palu, rata-rata timbulan sampah di ibu kota Sulawesi Tengah ini mencapai 170 ton per hari. Dari jumlah tersebut, 71 persen merupakan sisa makanan, 11 persen sampah plastik, dan sisanya terdiri dari logam serta jenis sampah lain.

Melalui imbauan ini, Pemerintah Kota Palu berharap kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan semakin meningkat. Tujuannya adalah untuk mewujudkan Ramadan 1447 H yang minim sampah plastik dan lingkungan yang lebih baik.

sumber gambar: ANTARA FOTO/Basri Marzuki/Spt