Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan program revitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, berhasil membangkitkan semangat belajar para murid dan guru. Peningkatan kenyamanan dalam kegiatan belajar mengajar menjadi faktor utama keberhasilan ini.
Dalam pernyataan tertulis di Jakarta pada Rabu (11/3/2026), Mu’ti menjelaskan bahwa pada tahun 2025, program revitalisasi satuan pendidikan di Provinsi Aceh telah menjangkau 726 sekolah dari berbagai jenjang. Total anggaran yang dialokasikan untuk program ini mencapai sekitar Rp688,2 miliar.
Program tersebut mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar dan menengah, hingga pendidikan nonformal. Menurut Mu’ti, pembangunan sarana dan prasarana pendidikan melalui revitalisasi bukan hanya berfokus pada aspek fisik semata.
“Membangun gedung tidaklah sekadar mendirikan tembok yang tinggi, tetapi membangun fondasi yang kokoh dalam rangka membangun anak-anak Indonesia yang cerdas dan berkarakter,” imbuhnya. Ia menegaskan, revitalisasi merupakan bagian dari upaya strategis untuk menjadikan pendidikan sebagai sarana membangun generasi Indonesia yang hebat melalui pemenuhan sarana dan prasarana yang memadai.
Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti juga berpesan kepada seluruh penerima manfaat agar fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan dan dirawat dengan baik. Ia menekankan bahwa sarana pendidikan yang dibangun melalui program revitalisasi merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.
Dampak Positif Revitalisasi di Lapangan
Plt. Kepala SMP Negeri 1 Peusangan Selatan, Leni, salah satu penerima manfaat revitalisasi, menyampaikan bahwa program ini memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap kenyamanan dan keamanan proses pembelajaran di sekolahnya. Menurutnya, kondisi ruang kelas yang sebelumnya kurang layak kini telah jauh lebih baik, sehingga siswa dapat belajar dengan lebih fokus dan nyaman.
“Siswa dapat belajar dengan lebih fokus, mendorong motivasi dan semangat belajarnya karena ruang kelas tidak lagi bocor, plafon yang layak, pintu dan jendela yang kokoh, serta fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer yang lebih baik sehingga siswa betah untuk menambah ilmu pengetahuan dan teknologinya,” kata Leni.
Ia menambahkan, revitalisasi juga memberikan dampak positif bagi para guru karena kini tersedia ruang kerja yang lebih memadai dan kondusif. “Hal ini membuat guru lebih fokus dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar sehingga dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Kepala SMA Negeri 3 Samalanga, Ira Novita, yang menyebut program revitalisasi sangat membantu sekolahnya karena fasilitas yang dibangun sesuai dengan kebutuhan. Ia mencontohkan pembangunan ruang administrasi baru yang memungkinkan laboratorium IPA dimanfaatkan secara maksimal oleh siswa.
“Dengan adanya ruang administrasi baru, siswa jadi bisa memanfaatkan laboratorium IPA dengan maksimal untuk pembelajaran, karena sebelumnya harus berbagi dengan ruang administrasi,” katanya.
