Yogyakarta – Kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang diterapkan pemerintah selama periode libur Lebaran 2026 disambut positif oleh sejumlah pekerja. Mereka menilai, fleksibilitas ini tidak hanya memudahkan pengaturan waktu mudik lebih awal, tetapi juga menjaga produktivitas kerja tetap optimal.

Pemerintah menetapkan WFA selama lima hari, yakni pada 16-17 Maret 2026 (pra-Lebaran) dan 25-27 Maret 2026 (pasca-Lebaran), bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sebagian karyawan swasta. Langkah ini bertujuan untuk mengurai kepadatan arus mudik dan balik, sekaligus memastikan roda perekonomian tetap berjalan.

Reinha Delima, seorang karyawan swasta, mengungkapkan bahwa kebijakan WFA merupakan solusi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak, baik pekerja maupun perusahaan. “Menurut aku ini win-win solution, perusahaan tetap pengen karyawannya produktif, dan kita juga bisa cepat mudik buat ketemu keluarga,” ujar Reinha kepada ANTARA di salah satu kafe di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (18/3/2026).

Ia menambahkan, meskipun bekerja dari lokasi yang fleksibel, disiplin kerja tetap menjadi prioritas utama. “Jam kerja tetap saya jaga. Walaupun fleksibel, kadang masih ada pekerjaan di malam hari, tapi sejauh ini masih bisa diatur,” jelasnya, sembari menekankan pentingnya menyiapkan ruang kerja yang nyaman agar aktivitas tetap berjalan optimal.

Senada, pekerja swasta lainnya, Yuardhita Widiaswara, mengaku durasi mudiknya menjadi lebih panjang berkat kebijakan WFA ini. “Biasanya libur hanya sekitar seminggu, sekarang bisa sampai dua minggu di kampung. Jadi waktu bersama keluarga lebih banyak,” kata Dias kepada ANTARA.

Namun, Dias tidak menampik adanya tantangan, terutama dalam hal koordinasi dan komunikasi dengan rekan kerja. “Komunikasi jadi tantangan, apalagi kalau sinyal kurang bagus. Kalau di kantor kan bisa langsung bertemu,” imbuhnya.

Sementara itu, Muhammad Andhika Febriansyah, seorang pekerja kreatif, melihat WFA sebagai pendorong efisiensi kerja. “WFA ini menghemat waktu perjalanan, jadi bisa lebih fokus kerja. Bisa juga kerja dari rumah atau kafe untuk cari suasana baru,” ujar Dika saat diwawancarai ANTARA di kafe yang sama.

Ia menekankan bahwa fleksibilitas harus diimbangi dengan tanggung jawab. “Kalau pekerjaan belum selesai, saya tetap prioritaskan kerja dulu,” tegasnya, memastikan target pekerjaan tetap tercapai.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya menjelaskan bahwa fleksibilitas kerja ini diberikan untuk mendukung mobilitas masyarakat tanpa mengganggu produktivitas. “Untuk mengoptimalkan mobilitas masyarakat, diberikan fleksibilitas dalam penetapan hari kerja,” kata Airlangga.

Kebijakan ini juga diharapkan dapat menjaga kelancaran layanan publik dan aktivitas ekonomi selama periode libur nasional dan cuti bersama Lebaran, serta mengurangi potensi penumpukan kendaraan di jalur mudik.