Harga ikan laut segar di Provinsi Aceh terpantau melonjak tinggi sejak dua pekan terakhir atau awal Lebaran, Selasa (7/4/2026). Kenaikan ini dipicu oleh minimnya pasokan dari nelayan setempat akibat cuaca buruk, menimbulkan keresahan di kalangan pedagang.
Di pusat pasar ikan Pante Teungoh, Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh, pada Senin (6/4) kemarin, sejumlah jenis ikan mengalami kenaikan signifikan. Ikan dencis, yang biasanya Rp30.000 per kilogram, kini mencapai Rp50.000 per kilogram.
Ikan gembung naik dari Rp35.000 menjadi Rp45.000-Rp50.000 per kilogram. Sementara itu, ikan bandeng yang sebelumnya Rp30.000 per kilogram, kini dijual Rp50.000-Rp55.000 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada ikan tongkol, dari Rp25.000 menjadi Rp35.000 per kilogram. Begitu pula ikan mujair, ukuran besar dari Rp35.000 kini Rp40.000 per kilogram, dan ukuran sedang dari Rp20.000 menjadi Rp30.000 per kilogram.
Abdul Muthalib, seorang pedagang ikan di pusat pasar Pante Teungoh, membenarkan kondisi tersebut. “Produksi ikan dari nelayan berkurang. Maka harganya mahal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rendahnya pasokan ikan dari nelayan yang beraktivitas di perairan Selat Malaka disebabkan oleh gangguan cuaca buruk. Perubahan cuaca yang sering terjadi, seperti gelombang tinggi dan angin kencang, menyulitkan nelayan tradisional dengan kapal kecil untuk melaut.
Kondisi ini sangat rawan bagi mereka, mengingat risiko terbawa arus atau kecelakaan laut seperti terbalik.
Dampak kenaikan harga ini dirasakan langsung oleh para penjual. Tarmizi, seorang penjual ikan keliling di Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, mengungkapkan kekecewaannya. “Setelah lebaran dua pekan lalu, baru empat hari saya beraktivitas menjual ikan. Tapi harganya masih mahal. Modal kita tinggi sedangkan keuntungan tidak sesuai,” keluhnya.
