Pasha ABK Center Gresik secara resmi meluncurkan program Full Day Therapy, sebuah layanan terapi komprehensif berbasis penuh hari bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Peluncuran ini bertepatan dengan peringatan Hari Autisme Sedunia pada Jumat, 3 April 2026, menandai upaya signifikan dalam memenuhi kebutuhan intervensi di Kabupaten Gresik.
Program inovatif ini digagas sebagai respons terhadap peningkatan jumlah peserta didik berkebutuhan khusus di Gresik. Meskipun Kabupaten Gresik telah ditetapkan sebagai kabupaten Inklusi, tantangan di lapangan masih cukup besar, terutama dalam penyediaan fasilitas dan durasi terapi yang memadai.
Kepala Sekolah Pasha ABK Center, Rinawati, menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama adalah kapasitas terapi. Banyak ABK di Gresik belum mendapatkan akses ke tempat terapi dengan fasilitas lengkap dan durasi yang memadai. Selain itu, stigma dan penerimaan lingkungan juga masih menjadi kendala, sehingga edukasi berkelanjutan bagi masyarakat sangat dibutuhkan.
Tantangan Intervensi Intensif dan Solusi Terpadu
Rinawati menyoroti kebutuhan intervensi intensif yang mendesak. “Tantangan lainnya adalah kebutuhan Intervensi Intensif dimana mayoritas ABK di Gresik membutuhkan lebih dari satu jenis terapi, namun seringkali layanan tersebut terfragmentasi atau tersebar di lokasi yang berbeda,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Menanggapi permasalahan tersebut, Pasha ABK Center menghadirkan terobosan melalui model Full Day Therapy. Program ini mengemas pembelajaran secara klasikal dan kolaboratif, menggabungkan aspek akademik, vokasi life skill, serta terapi yang dipersonalisasi berdasarkan Personal Learning Profile (PLP) setiap siswa.
Model ini dirancang untuk memberikan stabilitas dan struktur yang sangat dibutuhkan oleh ABK. “ABK sangat terbantu dengan rutinitas yang sama setiap hari. Program terjadwal sepanjang hari membantu mereka memahami struktur waktu dan mengurangi kecemasan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah melalui UPT Resource Center Gresik yang berupaya memastikan kesetaraan layanan pendidikan bagi disabilitas,” jelas Rinawati.
Manfaat Durasi Optimal dan Pemantauan Menyeluruh
Rinawati melanjutkan, keberhasilan intervensi autisme sangat dipengaruhi oleh intensitasnya. Dengan durasi waktu yang lebih panjang dalam program Full Day Therapy, tersedia kesempatan optimal bagi anak untuk menerima stimulasi yang berkelanjutan. Model satu atap ini juga memungkinkan pemantauan perkembangan anak secara menyeluruh, mulai dari kemampuan verbal hingga kemandirian fisik, tanpa perlu berpindah fasilitas.
Pendekatan terpadu ini diharapkan dapat menghasilkan capaian yang lebih konsisten dan terukur dalam perkembangan ABK. “Kami berharap program Full Day Therapy di Pasha ABK Center dapat menjadi standar baru layanan di Gresik guna mewujudkan kemandirian penuh bagi anak-anak autis di masa depan,” pungkas Rinawati.
