Omar Daniel dan Kimberly Ryder menghadapi tantangan unik saat mengadaptasi sebuah buku kumpulan kata-kata mutiara menjadi serial drama. Keduanya mengaku tidak gentar menghadapi potensi protes dari para penggemar buku aslinya, fokus pada proses kreatif yang dipandu sutradara.
Proses mengubah potongan pesan singkat menjadi alur cerita yang utuh membutuhkan kreativitas tinggi dari tim produksi. Omar Daniel menjelaskan, naskah harus dirajut sedemikian rupa agar setiap kutipan dapat tersambung dan membentuk narasi yang kohesif.
“Jadi memang kita sendiri juga nggak bisa menyambungkan antara satu kata ke kata yang lain kan, satu lembar ke lembar yang lain. Nah itu tentunya dibantu dengan penulisan oleh tim penulis dan diarahkan director untuk mengarahkan kita,” ujar Omar Daniel, menjelaskan bagaimana para aktor sangat bergantung pada arahan sutradara untuk mendalami karakter secara visual.
Senada dengan Omar, Kimberly Ryder melihat format buku yang tidak konvensional ini justru membuka ruang interpretasi yang lebih luas bagi para pemeran. Di bawah arahan sutradara Fajar Nugros, mereka mendapatkan kebebasan untuk mengembangkan tokoh yang dimainkan.
“Iya kayaknya… lebih banyak freedom yang diberikan kepada kita untuk, ya udah kita interpretasinya mau seperti apa, tapi kita juga di-guide oleh Pak Fajar,” tambah Kimberly, membagikan pengalamannya di balik layar produksi.
Terkait ekspektasi tinggi dari pembaca setia buku aslinya, Kimberly mengaku cukup tenang. Ia menyadari bahwa sebuah karya adaptasi tidak mungkin dapat memuaskan seluruh penonton secara sempurna.
“Deg-degan… tapi emang kita sih emang nggak akan pernah kita bisa appease ke seratus persen everyone. Jadi kayak, ya udahlah ya, pokoknya kita ngikutin kata director-nya saja,” tegas Kimberly dengan penuh percaya diri.
Omar Daniel menambahkan bahwa dramatisasi adalah hal yang wajar dalam sebuah serial sebagai bentuk penyesuaian media dari teks ke visual. Ia optimistis para pembaca akan memahami bahwa versi layar kaca pasti memiliki perbedaan mendasar dengan isi buku demi kebutuhan hiburan.
