Pengembangan kawasan hunian di Bali kini bergerak melampaui sekadar pembangunan properti. Sejumlah proyek mulai mengintegrasikan hunian dengan ekosistem gaya hidup, komunitas kreatif, fasilitas pendidikan, hingga pariwisata dalam satu kawasan terpadu. Pendekatan ini menandai pergeseran tren dalam industri properti, di mana nilai sebuah hunian tidak lagi hanya ditentukan oleh desain bangunan atau fasilitas dasar, melainkan juga oleh lingkungan sosial, aktivitas komunitas, serta pengalaman hidup yang tersedia di dalamnya.

CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, menjelaskan bahwa konsep hunian saat ini berkembang ke arah ekosistem kehidupan yang lebih menyeluruh. “Konsep tempat tinggal terbaik melampaui batas dinding hunian itu sendiri. Pertanyaannya bukan hanya seperti apa rumahnya, tetapi apa yang bisa dilakukan di sana dan siapa komunitas di sekitarnya,” ujarnya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kroll menyebut, salah satu kawasan yang dikembangkan dengan pendekatan tersebut berlokasi di pesisir barat daya Bali, mencakup area seluas sekitar 44 hektare. Kawasan ini dirancang sebagai lingkungan terpadu yang memungkinkan penghuninya untuk tinggal, bekerja, belajar, dan berinteraksi dalam satu area. Dalam pengembangannya, hanya sekitar 30% lahan yang dialokasikan untuk pembangunan, sementara sisanya dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau dan lanskap alami.

Lapisan hunian di dalam kawasan ini dikembangkan melalui berbagai proyek residensial yang dirancang untuk tumbuh bersama fasilitas gaya hidup, ruang komunitas, serta kegiatan kreatif yang berlangsung di dalamnya. Head of Corporate Communications Nuanu Real Estate, Reyni Wullur, menambahkan bahwa keputusan memilih tempat tinggal kini semakin dipengaruhi oleh kualitas lingkungan dan komunitas di sekitarnya. “Sekarang orang tidak lagi memilih tempat tinggal hanya karena bangunannya. Faktor terbesar adalah lingkungan sekitar dan komunitas yang akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Menurut Reyni, seiring perkembangan kawasan tersebut, pengembang menargetkan lebih dari 400 unit residensial dan hospitality dapat diserahterimakan pada tahun 2027. Selain residensial, pengembangan kawasan juga mencakup sektor hospitality, ruang seni, hingga agenda kegiatan internasional yang melibatkan komunitas global. Fasilitas gaya hidup seperti distrik kuliner dan ruang sosial juga dikembangkan untuk mendukung aktivitas sehari-hari penghuni. Kawasan ini turut mengintegrasikan sektor pendidikan melalui kolaborasi dengan lembaga pendidikan internasional untuk menghadirkan platform pembelajaran berbasis teknologi.

Reyni menekankan, integrasi antara hunian, komunitas, aktivitas kreatif, serta fasilitas publik menjadi faktor penting dalam membangun kawasan yang berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai mencerminkan perubahan arah pengembangan properti di Bali, dari sekadar destinasi investasi atau wisata menuju kawasan hunian yang memiliki ekosistem kehidupan yang lebih lengkap.

Ekosistem Pendukung yang Komprehensif

Saat ini, Nuanu Real Estate tengah menggarap 12 proyek hunian dan satu hotel investasi dengan skema kepemilikan hak milik dan hak sewa. Beberapa proyek menunjukkan progres signifikan, di antaranya:

  • The Collection Vol. 1 dan Ecoverse, ditargetkan rampung pada kuartal pertama 2026.
  • OXO The Pavilions dan Flower Estates, telah memasuki tahap konstruksi.

Flower Estates menghadirkan 28 unit vila dengan konsep arsitektur yang memadukan inspirasi orangerie Eropa dan lanskap tropis Bali, dengan harga mulai Rp8,4 miliar dan taman privat sebagai elemen utama hunian. Selain itu, terdapat proyek Black Sands Oasis dengan konsep vila dan studio berarsitektur desert modernism, serta The Sense, hunian berbasis komunitas yang menyasar kreator dan profesional.

Sementara itu, X Hotel sebagai proyek hotel investasi pertama ditargetkan memasuki tahap arsitektural pada April 2026 dengan target serah terima pada kuartal pertama 2027.

Sejalan dengan pengembangan residensial, kawasan ini juga membangun distrik kuliner dan gaya hidup Sutala yang dirancang sebagai ruang publik walkable yang menggabungkan restoran, budaya, dan aktivitas komunitas. Director of Sutala, Conrad, menyatakan bahwa “tren industri kuliner kini tidak hanya soal makanan, tetapi juga pengalaman sosial dan atmosfer tempat.” Distrik ini akan berdiri di atas lahan sekitar 17.000 meter persegi dengan lebih dari 60 tenant restoran dan merek gaya hidup, dengan soft launch direncanakan pada akhir 2026.

Pendidikan sebagai Bagian Integral Ekosistem

Selain gaya hidup, sektor pendidikan juga menjadi bagian dari pengembangan kawasan. Saat ini ProEd Global School telah beroperasi di area tersebut. Pengembang juga bekerja sama dengan Genius Group Limited untuk menghadirkan Genius City, sebuah platform pendidikan yang berfokus pada pembelajaran teknologi, kewirausahaan, dan pengembangan keterampilan masa depan. Tahap awal program ini akan menghadirkan pembelajaran berbasis AI dengan kurikulum Cambridge, sebelum dikembangkan menjadi education hub yang mencakup program pelatihan korporasi, pendidikan siswa SMA, hingga lifelong learning.

Dengan integrasi berbagai elemen ini, Nuanu Creative City menegaskan posisinya sebagai pelopor dalam menciptakan kawasan hunian yang tidak hanya menawarkan tempat tinggal, tetapi juga ekosistem kehidupan yang lengkap dan berkelanjutan di Bali.