Pemerintah Kabupaten Natuna mengambil langkah strategis untuk memperkuat kemandirian pangan di kawasan perbatasan. Melalui inisiasi pembangunan pabrik pullet, Natuna dibidik menjadi sentra unggas yang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga memasok wilayah sekitar di kepulauan.
Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menegaskan bahwa proyek ini merupakan upaya penting untuk meningkatkan posisi Natuna sebagai daerah perbatasan yang produktif. “Selama ini kebutuhan telur dan daging ayam masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Dengan produksi sendiri, kita ingin Natuna tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga produsen,” kata Cen Sui Lan pada Senin (2/3).
Untuk mendukung proyek ambisius ini, pemerintah daerah telah menyiapkan lahan seluas 10 hektare di kawasan Padang Angus, Binjai. Di lokasi tersebut, direncanakan pembangunan lima kandang yang mampu menampung total 100 ribu pullet atau ayam petelur muda siap produksi. Selain itu, fasilitas pendukung seperti cold storage berkapasitas 100 ton dan rumah potong hewan (RPH) unggas juga akan dibangun untuk menunjang produksi ayam pedaging.
Pengembangan sektor unggas ini dirancang secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Mulai dari pembibitan, pembesaran, produksi telur, hingga distribusi akan dikelola secara sistematis. Pendekatan ini diharapkan mampu menjamin ketersediaan pasokan dan stabilitas harga di pasaran.
Sebagai daerah kepulauan, Natuna kerap menghadapi tantangan distribusi logistik yang signifikan, terutama saat cuaca buruk mengganggu transportasi laut. Kondisi ini seringkali memicu fluktuasi harga bahan pangan. Oleh karena itu, penguatan produksi lokal menjadi solusi jangka panjang yang krusial.
Pendanaan proyek direncanakan bersumber dari Danantara melalui skema kerja sama dengan pihak swasta. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat realisasi pembangunan dan memastikan pengelolaan yang profesional serta berkelanjutan.
Selain untuk masyarakat Natuna, hasil produksi unggas nantinya diproyeksikan dapat memasok wilayah sekitar, termasuk Kabupaten Kepulauan Anambas. Jika kapasitas produksi telah optimal, Natuna diharapkan menjadi salah satu pusat distribusi unggas di kawasan perbatasan Provinsi Kepulauan Riau.
Program ini juga diperkirakan membawa dampak ekonomi yang luas. Kehadiran sentra unggas baru berpotensi membuka peluang usaha turunan, seperti penyediaan pakan, jasa transportasi, hingga perdagangan hasil ternak. Proyek ini juga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Dengan penguatan sektor peternakan unggas, Pemerintah Kabupaten Natuna menargetkan terwujudnya kemandirian pangan sekaligus peningkatan daya saing wilayah perbatasan sebagai daerah yang produktif dan mandiri secara ekonomi.
sumber gambar: Dok. MI 