Nama TikToker Winda Chan kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya Indonesia, menyusul lonjakan signifikan dalam pencarian daring terkait video kontroversialnya. Fenomena ini muncul pada hari pertama bulan suci Ramadhan, Kamis, 19 Februari 2026, dan turut diiringi peringatan akan potensi eksploitasi oleh pihak tak bertanggung jawab.
Berdasarkan pantauan Google Trends pada tanggal tersebut, minat publik terhadap nama Winda Chan melonjak hingga 100 persen. Peningkatan ini terjadi setelah namanya sempat meredup selama sekitar satu pekan terakhir, menandakan tingginya rasa penasaran netizen.
Beragam variasi kata kunci turut diburu, antara lain “Winda Chan blunder”, “winda can botol parfum”, dan “winda chan main botol parfum no sensor”. Lonjakan pencarian ini mencerminkan perhatian publik yang kembali tertuju pada sosok yang pernah menggemparkan media sosial tersebut.
Siapa Sebenarnya Winda Chan?
Winda Chan, atau yang juga dikenal sebagai Winda Can, memiliki nama asli Winda Sari Safitri. Ia dikenal publik melalui konten-konten kesehariannya yang sederhana dan ramah di TikTok.
Sebelumnya, Winda adalah seorang pedagang jus keliling yang berjualan di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Dengan penampilannya yang berhijab dan persona yang dianggap genit, ia berhasil menarik perhatian warganet.
Kontroversi Video Berdurasi 7 Menit 45 Detik
Ketenaran Winda Chan berubah drastis setelah sebuah video pribadi berdurasi sekitar 7 menit 45 detik tersebar luas di berbagai platform media sosial. Video tersebut menampilkan aktivitas intim Winda dengan sebuah botol parfum.
Dalam rekaman itu, Winda terlihat duduk di lantai kamar mandi, berdekatan dengan kloset jongkok. Kejadian inilah yang memicu gelombang pencarian dengan berbagai kata kunci seperti “winda can parfum”, “winda can main pakai parfum”, hingga variasi ejaan namanya menjadi “winda chan”.
Modus Eksploitasi dan Ancaman Kejahatan Siber
Fenomena viralnya nama Winda Chan tidak luput dari pemanfaatan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Sejumlah akun abal-abal bermunculan, menyebarkan cuplikan video dan mengklaim memiliki versi lengkapnya.
Modus ini bertujuan memancing korban untuk mengakses laman-laman berbahaya. Para pengguna internet diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap taktik umum ini, di mana pelaku mengarahkan korban ke tautan tertentu setelah menyebarkan cuplikan video.
Tautan-tautan tersebut berpotensi mengarah ke situs phishing yang dirancang untuk mencuri data pribadi, menyebarkan malware, atau bahkan menjadi pintu masuk ke situs judi online ilegal. Masyarakat diminta berhati-hati agar tidak menjadi korban kejahatan siber.
