Anggapan bahwa mata juling atau strabismus dapat sembuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia, terutama pada anak-anak, ternyata tidak sepenuhnya benar. Kondisi ketika posisi kedua mata tidak sejajar ini, jika tidak ditangani secara tepat, berisiko menyebabkan gangguan penglihatan permanen seperti ambliopia atau mata malas.

Sebuah penelitian berjudul Strabismus in patients with cortical visual impairment: outcomes of surgery and observations of spontaneous resolution menunjukkan bahwa hanya sekitar 16 persen kasus strabismus pada pasien dengan gangguan penglihatan akibat kelainan kortikal yang mengalami perbaikan spontan tanpa intervensi bedah. Data ini menegaskan bahwa meskipun ada kemungkinan kecil perbaikan alami, mayoritas kasus memerlukan penanganan medis.

Penelitian tersebut juga menyoroti efektivitas operasi strabismus. Pada pasien yang dipilih dengan tepat, tindakan bedah memberikan hasil yang cukup baik, dengan hanya sekitar 16 persen pasien yang memiliki hasil akhir kurang optimal (deviasi lebih dari 25 prisma dioptri). Ini mengindikasikan bahwa intervensi bedah dapat menjadi solusi yang signifikan untuk mengembalikan kesejajaran mata.

Memahami Kondisi Mata Juling Secara Umum

Untuk memahami lebih lanjut mengenai strabismus dan penanganannya, berikut adalah beberapa poin penting yang perlu diketahui:

  • Tidak Semua Mata Juling Sama. Pada bayi usia di bawah empat bulan, mata yang tampak tidak sejajar masih dapat tergolong normal karena sistem penglihatan belum berkembang sempurna. Namun, jika kondisi ini menetap setelah usia enam bulan atau muncul tiba-tiba pada anak yang lebih besar maupun orang dewasa, pemeriksaan dokter segera diperlukan. Sebagian besar kasus strabismus yang menetap tidak akan membaik tanpa penanganan.

  • Perbaikan Spontan Hanya Terjadi pada Sebagian Kecil Kasus. Berdasarkan penelitian pada pasien dengan CVI, hanya sekitar 16 persen yang mengalami resolusi spontan. Ini berarti kemungkinan sembuh sendiri memang ada, tetapi tidak dapat dijadikan dasar untuk menunda pemeriksaan atau terapi. Menunggu tanpa evaluasi justru berisiko menyebabkan gangguan penglihatan yang lebih berat.

  • Risiko Ambliopia/Mata Malas Jika Tidak Ditangani. Jika satu mata terus-menerus tidak sejajar, otak akan lebih memilih menggunakan mata yang lurus. Akibatnya, mata yang juling menjadi jarang digunakan dan lama-kelamaan mengalami penurunan fungsi penglihatan. Ambliopia yang tidak diterapi pada usia dini dapat bersifat permanen hingga dewasa.

  • Operasi Dapat Memberikan Hasil yang Baik. Pada pasien yang dipilih dengan tepat, operasi strabismus menunjukkan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi. Penelitian membuktikan bahwa tindakan bedah bukan sekadar kosmetik, melainkan dapat memberikan perbaikan kesejajaran mata yang signifikan.

  • Deteksi dan Evaluasi Dini Sangat Penting. Setiap kasus strabismus memiliki penyebab yang berbeda, mulai dari gangguan refraksi, kelainan otot mata, gangguan saraf, hingga kondisi neurologis tertentu. Semakin cepat dilakukan evaluasi, semakin besar peluang untuk memperbaiki fungsi penglihatan dan mencegah komplikasi.

Meskipun dalam sebagian kecil kasus mata juling dapat membaik sendiri, terutama pada kondisi tertentu seperti gangguan penglihatan kortikal, sebagian besar kasus memerlukan evaluasi dan penanganan yang tepat. Jangan menunggu hingga kondisi memburuk. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menentukan apakah cukup dengan observasi, terapi kacamata, latihan, atau memerlukan tindakan operasi. Penanganan yang tepat waktu adalah kunci untuk menjaga kualitas penglihatan hingga dewasa.

Penulis adalah dokter umum yang bertugas di Puskesmas Mehalaan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Selatan.