SURABAYA – Midtown Hotels Indonesia membagikan strategi komprehensif dalam penanganan krisis komunikasi dan manajemen narasi kepada 19 mahasiswa yang tergabung dalam PERHUMAS Muda Surabaya Raya. Sesi edukatif ini berlangsung di Midtown Residence Surabaya pada Jumat, 20 Februari 2026, sebagai upaya membekali calon praktisi humas dengan pengalaman nyata di industri perhotelan.

Reputasi bisnis perhotelan seringkali rentan terhadap isu miring. Oleh karena itu, membangun citra jangka panjang memerlukan ketelitian dalam menyusun narasi sejak dini, bahkan sebelum potensi masalah muncul ke permukaan. Corporate Public Relations Midtown Hotels Indonesia, Kus Andi, menjelaskan bahwa setiap hotel di bawah naungan Midtown, mulai dari Midtown Xpress hingga Verwood Hotel, memiliki karakter yang berbeda.

“Penyusunan narasi harus merujuk pada identitas brand masing-masing. Kita tidak bisa menyamakan cara bicara satu hotel dengan hotel lainnya,” ujar Andi saat berbagi materi di hadapan para mahasiswa dari berbagai universitas tersebut.

Andi menambahkan, pemilihan kanal distribusi pesan juga menjadi faktor penentu tingkat kepercayaan publik. Media massa tetap menjadi poros utama untuk menyampaikan informasi resmi yang kredibel, seperti laporan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Sementara itu, media sosial lebih efektif sebagai ruang bercerita yang interaktif, menampilkan pengalaman tamu, dan membangun kedekatan emosional.

Strategi Hadapi Krisis Tak Terduga

Membahas soal krisis, Andi menekankan bahwa situasi darurat seringkali datang tanpa peringatan. Kunci utamanya bukan sekadar pada cara merespons, melainkan pada persiapan matang di fase pra-krisis. Midtown Hotels menerapkan protokol ketat melalui Standard Operating Procedure (SOP) dan simulasi rutin guna memastikan tim tidak gagap saat terjadi gejolak.

“Saat krisis pecah, analisis cepat dan penunjukan satu pintu juru bicara menjadi harga mati. Tujuannya agar pesan yang keluar ke publik tetap konsisten dan tidak simpang siur,” tegasnya.

Menurut Andi, hubungan baik dengan media massa merupakan aset paling berharga saat perusahaan sedang diuji oleh situasi sulit. Kemitraan yang solid dengan jurnalis dapat membantu mengelola persepsi publik secara lebih efektif.

Simulasi Kasus Bekali Mahasiswa

Sesi berbagi ini menjadi lebih hidup saat para mahasiswa diminta melakukan simulasi kasus. Mereka ditantang untuk memposisikan diri sebagai manajer krisis yang harus menyelamatkan reputasi perusahaan di bawah tekanan waktu. Jessica, mahasiswi Universitas Dr. Soetomo, bersama Evlen dan Zada dari Universitas Airlangga (Unair), mengaku simulasi ini memberikan perspektif baru yang berharga.

Mereka menyadari bahwa dunia kerja nyata jauh lebih kompleks dibandingkan tumpukan teori di ruang kuliah. Perencanaan matang, menurut mereka, bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi seorang praktisi PR untuk melindungi marwah perusahaan.

Melalui program kunjungan ini, para calon praktisi humas diharapkan memiliki bekal mental dan taktis yang cukup sebelum benar-benar terjun ke industri komunikasi yang dinamis dan penuh tantangan.