Kementerian Luar Negeri Mesir pada Rabu (8/4/2026) mengutuk keras serangkaian serangan Israel di Lebanon, menyebutnya sebagai upaya baru untuk menyeret kawasan tersebut ke dalam kekacauan. Kairo menegaskan bahwa serangan-serangan tersebut mencerminkan niat untuk melemahkan upaya de-eskalasi internasional.
“Republik Arab Mesir mengutuk keras serangkaian serangan udara Israel di berbagai wilayah Lebanon yang bersaudara. Serangan tersebut mencerminkan niat untuk melemahkan upaya de-eskalasi internasional dan merupakan upaya baru Israel untuk menyeret kawasan itu ke dalam kekacauan total,” demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Mesir.
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon, jumlah korban jiwa akibat serangan Israel di negara itu hingga Rabu mencapai 112 orang, sementara 837 lainnya mengalami luka-luka.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari yang sama menyatakan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon tidak termasuk dalam perjanjian gencatan senjata dengan Iran, terutama karena keterlibatan gerakan Hizbullah.
Sebelumnya, pada Selasa malam, Trump mengumumkan bahwa ia telah menyetujui gencatan senjata bilateral selama dua minggu dengan Iran. Ia juga memastikan bahwa Iran telah setuju untuk membuka Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.
Menanggapi hal ini, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran kemudian mengonfirmasi bahwa Teheran akan memulai pembicaraan dengan Amerika Serikat pada Jumat (10/4/2026) di ibu kota Pakistan, Islamabad.
