Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf meminta generasi muda untuk menjaga dan melestarikan tradisi Montunu Hulu, sebuah warisan leluhur masyarakat Bungku. Permintaan ini disampaikan di tengah kemeriahan Festival Montunu Hulu yang melibatkan sekitar 2.000 siswa dalam pawai obor di Kecamatan Bungku Tengah, Morowali, Sulawesi Tengah, pada Selasa (17/3/2026).
Iksan Baharudin Abdul Rauf menegaskan pentingnya tradisi ini agar tidak dipandang sebelah mata. “Saya berharap kepada seluruh masyarakat Bungku agar tradisi ini tidak dipandang sebelah mata. Kita harus benar-benar mengokohkan dan mempertahankannya dengan sebaik mungkin agar tetap hidup sepanjang masa,” kata Bupati dalam keterangannya di Palu, Selasa (17/3/2026).
Ia menambahkan, tradisi tersebut harus dikokohkan dan dipertahankan agar menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Bungku.
Selain pawai obor yang diikuti oleh sekitar 2.000 siswa dari berbagai sekolah di Kecamatan Bungku Tengah, Festival Montunu Hulu juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni tradisional. Kegiatan tersebut meliputi hadrah dari siswa MTs Sakita serta musik religi, menambah semarak suasana.
Kepala Dinas Pendidikan Morowali, Arifin Lakane, menjelaskan bahwa kegiatan Montunu Hulu merupakan bagian dari upaya pengembangan dan pelestarian tradisi serta budaya Bungku di tengah masyarakat. “Sebagaimana kita ketahui bersama, kegiatan Montunu Hulu merupakan upaya pengembangan dan pelestarian tradisi dan budaya Bungku untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap kearifan lokal masyarakat, khususnya generasi muda,” ujar Arifin.
Menurut Arifin, tradisi Montunu Hulu memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Morowali. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menyambut datangnya malam Lailatulqadar, yang diyakini hadir pada malam-malam ganjil di penghujung bulan suci Ramadhan.
Ia juga menjelaskan arti dari nama tradisi tersebut. “Montunu artinya membakar sedangkan hulu artinya obor, jadi Montunu Hulu berarti membakar obor,” jelasnya.
Dalam sejarah Kerajaan Bungku, obor memiliki makna sebagai penerang kegelapan pada malam-malam Ramadhan. Tradisi menyalakan obor ini dilakukan agar suasana malam menjelang Idul Fitri menjadi terang benderang, sekaligus menjadi sarana pelestarian kearifan lokal dan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap tradisi dan budaya daerah di Kabupaten Morowali.
