Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu sekolah dasar negeri (SDN) di Kota Malang menuai sorotan tajam setelah ditemukan makanan mengandung belatung hidup. Kejadian ini terungkap pada Kamis, 05 Maret 2026, saat menu puding stroberi dibagikan kepada siswa dan dibawa pulang ke rumah masing-masing.
Penemuan belatung tersebut dilaporkan oleh seorang wali murid dari SDN di kawasan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Wali murid tersebut merekam video berdurasi sekitar 26 detik yang menunjukkan belatung berukuran kecil masih hidup dan bergerak-gerak di antara potongan buah stroberi dalam puding.
“Bu ngapunten, ini ada belatungnya masih hidup, gerak-gerak,” ujar wali murid yang enggan disebutkan namanya dalam rekaman video tersebut. Menurutnya, keluhan serupa juga muncul dari beberapa anak di kelas 3 dan kelas 6 SDN tersebut, yang kemudian menyebar di grup-grup WhatsApp wali murid.
“Awalnya wali murid kelas 6 menghubungi saya, menginfokan kalau pudingnya ada belatungnya. Setelah dicek dan dibagikan fotonya, ternyata kejadian ini dialami juga di kelas lain, kemungkinan merata,” jelas wali murid tersebut kepada awak media pada Selasa petang (3/3/2026).
Temuan belatung ini menambah daftar panjang keluhan terkait standar kebersihan dan higienitas makanan yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Wali murid mencatat, ini adalah kali keempat keluhan dilayangkan.
Sebelumnya, polemik pernah muncul terkait pemberian susu murni rebusan tanpa label higienis yang jelas, yang diduga menyebabkan sejumlah siswa sakit perut. Setelah diprotes, menu tersebut diganti dengan susu UHT kemasan. “Pernah juga dikasih kacang rebus yang belum matang, lalu setup nanas yang kondisinya sudah lembek (benyek) dan airnya keruh. Sekarang puncaknya ada belatung di puding,” tambahnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala SPPG Tulusrejo 2 Lowokwaru Kota Malang, Julfa Hannan, mengakui adanya insiden belatung pada menu MBG. Ia menyampaikan permohonan maaf dan mengakui pihaknya kecolongan dalam pengontrolan kualitas.
“Kami sampaikan permohonan maaf, kami akan evaluasi ini dan mengganti di menu selanjutnya. Sebagai pelayan publik, pasti ada kesalahan. Ini akan menjadi evaluasi agar ke depan lebih teliti. Ternyata stroberi ini riskan ada ulatnya,” tutur Hannan.
Hannan menjelaskan bahwa buah stroberi yang digunakan untuk puding sebenarnya sudah dicuci bersih menggunakan garam sebelum diolah. Ia menduga belatung tersebut muncul dari buah stroberi itu sendiri. Pihaknya telah mengumumkan agar makanan yang dilaporkan kurang layak tersebut tidak dikonsumsi dan dibuang saja.
“Penggantian khusus makanan yang dilaporkan kurang layak. Sudah diumumkan bahwa ini tak perlu dikonsumsi, dibuang saja. Kami akan ganti di menu-menu selanjutnya. Besok kami ganti di 12 sekolah yang kami kirim,” pungkas Hannan, memastikan langkah perbaikan akan segera dilakukan.
sumber gambar: jatimnow.com 