Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif keluarga komponis R. Soetedjo untuk mendokumentasikan dan merawat warisan musik tokoh asal Banyumas tersebut. Dukungan ini disampaikan Fadli Zon saat menerima audiensi keluarga R. Soetedjo di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, pada Jumat (20/2/2026).

Fadli Zon mengapresiasi langkah keluarga dalam menelusuri dan melengkapi data sejarah sang komponis. “Saya mengapresiasi upaya keluarga yang telah menelusuri dan melengkapi data-data sejarah Beliau. Ini penting sebagai bagian dari dokumentasi sejarah musik nasional,” ujar Fadli Zon.

Menteri Kebudayaan juga menanggapi positif rencana keluarga untuk mendirikan museum di Purwokerto, Jawa Tengah. Ia meminta agar proposal tersebut diajukan secara resmi. “Terkait rencana museum di Purwokerto, silakan diajukan secara resmi agar dapat kita tindak lanjuti sesuai mekanisme yang berlaku,” tambahnya.

Peran R. Soetedjo dalam Musik Nasional

Raden Soetedja Poerwodibroto atau R. Soetedjo dikenal sebagai komponis asal Banyumas yang memiliki kiprah signifikan di Radio Republik Indonesia (RRI) Purwokerto dan Jakarta pada era awal kemerdekaan. Keluarga R. Soetedjo menyoroti perannya sebagai pelopor musik dan orkestra di Indonesia.

Ario Prakoso, salah satu cucu R. Soetedjo, mengungkapkan keinginan keluarga untuk memperkenalkan kembali sosok kakeknya kepada publik. “Kami ingin memperkenalkan kembali R. Soetedjo sebagai salah satu pelopor musik Indonesia. Banyak yang mengenal lagunya, tetapi belum tentu mengetahui kontribusinya dalam sejarah musik nasional,” kata Ario.

Cucu R. Soetedjo lainnya, Artika, menjelaskan bahwa keluarga telah aktif menelusuri dan mengumpulkan berbagai arsip, mulai dari riwayat pendidikan, karier, hingga dokumentasi karya-karya R. Soetedjo. Komponis ini diketahui pernah memimpin Orkes Studio Jakarta pada periode awal pendiriannya.

Usulan Pengembangan Gedung Kesenian

Selain museum, keluarga juga mengusulkan agar Gedung Kesenian R. Soetedjo di Purwokerto dapat dikembangkan menjadi ruang dokumentasi dan edukasi seni. Mereka berharap gedung tersebut dapat berfungsi maksimal untuk menampilkan karya-karya R. Soetedjo dan seniman lokal lainnya.

“Gedungnya sudah ada, namun belum berfungsi maksimal. Jika dapat dihidupkan seperti Lokananta, tentu akan memberi dampak bagi masyarakat,” tutur Artika, merujuk pada gedung yang kini berada di bawah pengelolaan pemerintah daerah.

Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk mendukung upaya pelestarian dan pendokumentasian sejarah musik nasional, dengan melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat.