Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen menegaskan bahwa Greenland bukanlah komoditas yang bisa diperdagangkan. Pernyataan ini disampaikan Rasmussen menyusul tekanan tarif yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Denmark dan sejumlah negara Eropa lainnya.
Trump sebelumnya mengumumkan rencana pemberlakuan tarif sebesar 10 persen mulai Februari mendatang. Tarif ini akan diterapkan pada produk-produk dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Ancaman tarif tersebut akan meningkat menjadi 25 persen dan tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan pembelian Greenland oleh Amerika Serikat.
Menanggapi hal tersebut, Rasmussen menyampaikan sikap tegas Denmark. “Sangat penting bagi semua sekutu kami di NATO dan Uni Eropa… untuk menunjukkan kepada Presiden Amerika: Anda boleh punya keinginan, visi, dan permintaan, tetapi Anda tidak akan pernah bisa mencapainya dengan menekan kami,” ujar Rasmussen kepada media Inggris Sky News pada Senin (19/1).
Rasmussen juga mendesak Trump untuk memindahkan pembahasan mengenai Greenland dari ranah media sosial ke meja perundingan diplomatik. Ia menekankan bahwa Denmark memiliki “garis merah” yang tidak dapat dilanggar dalam isu ini.
“Kami bisa berdagang dengan orang lain, tetapi kami tidak bisa memperdagangkan manusia,” kata Rasmussen, menyoroti pentingnya hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Greenland. Greenland sendiri merupakan bagian dari Kerajaan Denmark, meskipun Trump berulang kali menyatakan keinginannya agar pulau tersebut menjadi bagian dari AS.
Otoritas Denmark dan Greenland secara konsisten telah meminta Amerika Serikat untuk tidak berusaha merebut pulau itu dan menghormati integritas teritorial mereka.
