Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus menggenjot pembentukan museum desa. Langkah ini merupakan bagian dari upaya besar untuk mewujudkan destinasi pariwisata berbasis kebudayaan sekaligus memperkuat pelestarian warisan sejarah di wilayah tersebut.

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, di Mataram pada Rabu, 4 Februari 2026, mengungkapkan bahwa saat ini NTB telah memiliki 15 museum yang tersebar dari Lombok hingga Sumbawa. “Kami ingin museum desa terus bertambah agar semakin memperkuat pelestarian benda bernilai sejarah dan menjadi objek wisata baru berbasis kebudayaan,” ujar Nuralam.

Visi “Kampungku Museumku”

Nuralam menjelaskan, NTB awalnya hanya memiliki lima museum, terdiri dari empat museum di Sumbawa dan satu museum di Lombok. Melalui program strategis Museum NTB yang bertajuk “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku”, inisiasi pembentukan delapan museum desa di Lombok berhasil direalisasikan pada tahun 2025.

“Memasuki tahun 2026 bertambah lagi dua museum, yaitu Museum Yayasan Asthapura Rinjani dan Museum Sanggar. Kini, total ada 15 museum di NTB,” kata Nuralam, merinci perkembangan jumlah museum di provinsi tersebut.

Penambahan jumlah museum ini sejalan dengan visi besar Museum NTB untuk menjadikan setiap desa sebagai kawasan living museum atau museum hidup. Nuralam menekankan bahwa museum desa tidak hanya berfungsi sebagai pusat destinasi wisata, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak ekonomi kreatif daerah.

Hal ini selaras dengan agenda pemerintah dalam memajukan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya sebagai ciri khas bagi setiap daerah. “Kami yakin museum-museum desa ke depan dapat menjadi pendukung pariwisata berkualitas,” ucap Nuralam.

Dukungan Pelestarian dan Ekonomi Kreatif

Selain itu, Nuralam menambahkan, museum desa juga dapat menciptakan ruang bagi generasi muda untuk berkarya, merawat warisan budaya leluhur, serta memastikan sejarah dan budaya terus hidup di tengah masyarakat.

Kepala Bidang Kebudayaan dari Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Kabupaten Lombok Timur, Abdul Hayyi, menyambut baik upaya Museum NTB. Ia mendorong agar museum-museum desa di Lombok Timur segera terwujud demi pelestarian dan pemajuan kebudayaan lokal.

Abdul Hayyi mengungkapkan, “koleksi benda-benda yang bernilai sejarah masih banyak tercecer di masyarakat, sehingga keberadaan museum desa bisa bermanfaat untuk menyimpan, merawat, dan sebagai saranan edukasi sekaligus budaya daerah.” Keberadaan museum desa diharapkan dapat menjadi wadah yang tepat untuk mengamankan dan memperkenalkan kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat.