Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah mengelaborasi sebuah model pelestarian sejarah dan budaya yang inovatif. Pendekatan ini berpusat pada pengembangan konsep museum tematik berbasis kampung, dengan melibatkan partisipasi langsung masyarakat di Kelurahan Karang Taliwang, Kota Mataram.

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, menjelaskan potensi besar Karang Taliwang untuk inisiatif ini. “Karang Taliwang potensial untuk dikembangkan museum kampung, karena memiliki DNA entrepreneur, kohesi sosial yang kuat, dan jejak sejarah yang telah ada sejak abad ke-17,” ungkap Nuralam di Mataram, Senin (31/3/2026).

Model pelestarian yang diusung Museum NTB ini tidak bersifat top-down. Sebaliknya, pendekatan bottom-up atau berbasis partisipasi masyarakat menjadi kuncinya. Proses perencanaan hingga pengelolaan melibatkan tokoh masyarakat, pemuda, dan berbagai komunitas setempat.

Visi Museum NTB adalah mengembangkan museum kampung yang melampaui fungsi ruang pelestarian artefak semata. Museum ini diharapkan menjadi ruang hidup yang merepresentasikan tradisi dan budaya yang masih dijalankan oleh penduduk setempat. “Kami mengajak mereka untuk berpikir bersama membuat museum kampung Karang Taliwang,” tambah Nuralam.

Lebih lanjut, Nuralam menyampaikan bahwa Karang Taliwang berpotensi menjadi museum hidup yang menyatu dengan aktivitas masyarakat sehari-hari. Pengunjung nantinya dapat menyaksikan langsung tradisi, praktik sosial budaya, hingga arsitektur lama yang masih dipertahankan oleh penduduk kampung tersebut, menjadikannya ruang pamer alami.

Sebagai langkah awal, Museum NTB bersama masyarakat Karang Taliwang berencana membentuk tim ad-hoc. Tim ini akan bertugas merumuskan langkah pengembangan museum tematik, termasuk pemetaan potensi, kebutuhan, serta bentuk dukungan yang dapat diberikan oleh masing-masing pihak.

Secara historis, Karang Taliwang memiliki akar yang kuat. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kampung ini terbentuk dari pemukiman pasukan Kerajaan Taliwang. Pasukan tersebut dikirim untuk membantu Kerajaan Selaparang menghalau invasi Kerajaan Gelgel dan Karangasem pada awal abad ke-16.

Upaya Museum NTB ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Tokoh Masyarakat Karang Taliwang, Syfari Habibi (53 tahun), mengapresiasi inisiatif pengembangan museum tematik sebagai destinasi wisata baru yang diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi lokal. “Masyarakat Taliwang sangat mendukung program itu, karena selain kuliner ayam taliwang yang terkenal, kami juga punya nilai sejarah yang kuat. Kami bisa bercerita lebih banyak tentang sejarah Taliwang melalui museum kampung,” pungkas Syfari.