Tradisi peresean, warisan budaya masyarakat Sasak Lombok yang identik dengan pertarungan rotan, kini menemukan medium baru. Sebuah serial sandiwara radio berjudul “Napas Peresean dalam Sandiwara Radio” siap menghadirkan kembali kisah-kisah heroik para pepadu dengan sentuhan humanis.

Program drama audio berseri ini dirancang untuk menampilkan kehidupan para pepadu, tokoh sentral dalam tradisi peresean, yang sarat dengan nilai-nilai keberanian, kehormatan, dan solidaritas. Produksi ini melibatkan sejumlah penulis, penyiar, serta praktisi radio berpengalaman di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Mengangkat Sisi Kemanusiaan Pepadu

Inisiator sekaligus produser program, M. Sukri ‘Ray Aruman’, menjelaskan bahwa sandiwara radio ini akan menyajikan kisah dramatik tentang dunia pepadu dari sudut pandang yang lebih mendalam. “Program ini menghadirkan kisah dramatik tentang dunia para pepadu yang dikenal sebagai simbol keberanian, kehormatan, dan persaudaraan. Melalui sandiwara radio, tradisi itu dihadirkan kembali dalam bentuk cerita yang menyoroti sisi kemanusiaan para pelakunya,” ujar Sukri pada Selasa (31/03/2026).

Sukri menambahkan, pemilihan tema peresean tidak dilakukan secara instan. Tim produksi terlebih dahulu melakukan riset mendalam. “Sebagai produser, saya membentuk tim kecil untuk melakukan kajian pustaka, mengumpulkan cerita-cerita lama, dan melakukan berbagai wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui perjalanan hidup para pepadu,” jelasnya.

Dalam pengembangan cerita, Sukri menggandeng jurnalis senior NTB sekaligus penulis buku, Buyung Sutan Muhlis, yang dipercaya menulis naskah dan merumuskan ide cerita. Naskah sandiwara radio tersebut kini telah rampung dan siap memasuki tahap produksi. “Alhamdulillah, naskah sandiwara sudah tuntas ditulis beliau dan siap produksi,” kata Sukri.

Kolaborasi Praktisi Radio Berpengalaman dan Talenta Baru

Proses produksi juga melibatkan sejumlah praktisi media dan penyiar radio berpengalaman. Dedi Suhadi didapuk sebagai sutradara, sementara mantan penyiar senior RRI Mataram, Esdarita, dipercaya sebagai pembawa cerita sekaligus narator. Penggarapan pustaka musik, teknik produksi, dan montase dipercayakan kepada Zamy Sangga Firdaus, seorang konten kreator audiovisual muda NTB.

Produksi ini juga akan menghadirkan kembali para penyiar dan pemain sandiwara radio yang pernah populer pada masa kejayaan radio di NTB. Menurut Sukri, langkah tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus upaya menjaga kualitas artistik produksi. “Dengan menghadirkan kembali para aktor suara berpengalaman, saya berharap drama radio ini memiliki kualitas artistik yang kuat sekaligus menghadirkan nostalgia bagi generasi yang pernah hidup bersama kejayaan radio,” ujarnya.

Untuk menjaring pengisi suara, tim produksi menggandeng komunitas penyiar radio seperti Tenda Siar NTB dan Radio Kita. Melalui proses audisi, diharapkan akan lahir talenta terbaik dari kalangan praktisi radio lokal.

Menghidupkan Imajinasi dan Nilai Budaya

Serial “Napas Peresean dalam Sandiwara Radio” direncanakan terdiri dari tujuh episode. Cerita akan mengangkat perjalanan seorang anak yang tumbuh di lingkungan peresean, mengeksplorasi berbagai dinamika kehidupan, mulai dari keberanian, luka, hingga makna persaudaraan yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Menurut Sukri, produksi ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal kepada masyarakat luas melalui medium audio. “Saya membayangkan bagaimana kisah-kisah heroik para pepadu peresean dapat dihidupkan kembali melalui medium audio,” ujarnya.

Ia menambahkan, radio memiliki kekuatan besar dalam membangun imajinasi pendengar, sebagaimana masa kejayaan sandiwara radio pada dekade 1980 hingga 1990-an. “Kita ingin menghadirkan kembali pengalaman itu, tetapi dengan cerita dari Lombok, dengan napas budaya Sasak yang kuat. Sebuah drama yang bukan hanya menghadirkan pertarungan, tetapi juga perjalanan hidup, persahabatan, rivalitas, dan nilai-nilai luhur dalam tradisi peresean,” katanya.

Program ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiana yang dikelola bersama LPDP. Dukungan tersebut dinilai sebagai bentuk pengakuan terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal melalui karya kreatif. “Dukungan ini menjadi bukti bahwa negara memberi ruang bagi inisiatif kreatif masyarakat dalam merawat warisan budaya. Bagi saya, ini adalah kepercayaan bahwa cerita-cerita dari Lombok layak diangkat dan dibagikan kepada publik yang lebih luas,” tutup Sukri.