Kembali ke rutinitas setelah menikmati liburan panjang seringkali memicu perasaan tidak nyaman, yang dikenal sebagai post holiday blues. Kondisi ini ditandai dengan kecemasan sementara, rasa sedih, motivasi rendah, dan kurang bersemangat saat harus kembali ke situasi rutin sehari-hari.
Guru Besar Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim (Romy) M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa kecemasan pasca-liburan dapat dikendalikan dengan cara berpikir positif. Menurutnya, penting untuk melihat sisi baik dari kehidupan rutin yang akan dijalani.
“Untuk menghindari dari holiday blues ini adalah kita harus tahu bahwa di dalam kehidupan kita di kantor enggak semuanya merasa enggak nyaman, karena apa kita bisa ketemu teman-teman kantor, kita lihat di weekend masih bisa pergi dengan keluarga jalan-jalan dan sebagainya,” ujar Romy kepada ANTARA, Selasa (31/3/2026).
Romy tidak menampik kemungkinan adanya penumpukan pekerjaan setelah liburan. Namun, ia menyarankan untuk membuat skala prioritas guna menghindari beban pikiran yang berlebihan. Dengan demikian, pekerjaan dapat dikelola lebih efektif, mana yang harus dikerjakan segera dan mana yang masih bisa ditunda.
Selain itu, penyesuaian diri setelah liburan juga perlu dilakukan secara bertahap agar kembali ke rutinitas tidak terasa memberatkan. Salah satu caranya adalah dengan menyisihkan waktu untuk beristirahat atau mengambil beberapa hari untuk membiasakan diri memulai aktivitas rutin di pagi hari.
“Hal itu membuat kita kemudian jadi terbiasa lagi untuk melakukan hal-hal yang terbiasa kita lakukan, sehingga tidak tiba-tiba harus kemudian bangunnya pagi, nah dengan demikian secara gradually kita bisa menyesuaikan diri,” jelas Romy.
Ia juga mengingatkan bahwa momen liburan tidak selalu berjalan mulus. Kendala seperti saat mudik atau dinamika pertemuan keluarga selama silaturahmi mungkin saja terjadi. Namun, dengan cara berpikir positif, momen kebersamaan tersebut akan terasa lebih bermakna dan tidak dilihat sebagai pengalaman negatif.
“Jadi tergantung dari cara manusia berpikir, kalau mau dilihat negatif semua negatif, tapi kalau kita lihat dari sesuatu yang kita hadapi ada sisi positifnya itu kemudian menjadi lebih menyegarkan untuk kita juga,” pungkas Romy.
