Ketimpangan akses kesehatan bagi anak-anak di wilayah kepulauan masih menjadi persoalan pelik yang membutuhkan perhatian serius. Realitas inilah yang mendorong Uung Victoria Finky, Founder Moell, untuk menempuh perjalanan panjang selama 15 jam dari Surabaya menuju Pulau Mamburit, Kepulauan Kangean, Sumenep, Madura.
Dalam sebuah aksi sosial bertajuk Moell On Mission yang berlangsung pada 22–26 April 2026, Uung dan timnya berinteraksi langsung dengan warga. Ia mendapati kenyataan bahwa fasilitas kesehatan bagi masyarakat pesisir di sana sangat jauh dari kata ideal, sebuah kondisi yang membuka mata tim mengenai tantangan harian warga lokal.
Misi Kemanusiaan dan Realitas di Lapangan
Perjalanan yang melibatkan jalur darat hingga penyeberangan antarpulau tersebut bukan tanpa alasan. Uung menegaskan bahwa tujuannya adalah untuk menyerap langsung kebutuhan dasar warga.
“Kehadiran kami bertujuan menyerap langsung kebutuhan dasar warga. Begitu sampai di Mamburit, terlihat jelas bahwa akses medis dan edukasi masih menjadi kendala utama bagi orang tua di sana,” tutur Uung Victoria Finky.
Data lapangan yang merupakan hasil kolaborasi Moell bersama CHeNECE Universitas Airlangga (Unair) pada 23-24 April 2026 mengungkap kondisi kesehatan anak yang mengkhawatirkan. Dari populasi anak usia 0-24 bulan, sebanyak 22,73 persen atau lima anak teridentifikasi stunting, sementara satu anak lainnya (4,55 persen) masuk kategori severely stunting.
Selain masalah tumbuh kembang, gangguan kulit akibat lingkungan pesisir dan paparan matahari ekstrem menjadi keluhan yang paling jamak ditemui. Sayangnya, keterbatasan jarak dan akses membuat banyak warga memilih pengobatan mandiri seadanya.
Bidan desa setempat, Syamsiyah, mengonfirmasi bahwa sulitnya menjangkau tenaga medis membuat perawatan anak di rumah seringkali tidak tuntas. Kondisi fasilitas kesehatan di Pulau Mamburit kian memprihatinkan.
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) yang selama ini menjadi tumpuan warga ternyata berdiri di atas lahan pribadi dan dibangun secara swadaya dari iuran masyarakat. Di gedung sederhana tersebut, petugas medis hanya dibekali satu ranjang pemeriksaan dengan stok obat-obatan yang sangat terbatas.
“Pasien yang butuh rujukan harus dilarikan keluar pulau. Keberangkatan kapal pun sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan transportasi,” ungkap perawat Poskesdes Mamburit, Hj Asharul Fauli.
Revitalisasi Poskesdes dan Edukasi Kesehatan
Melihat urgensi tersebut, Moell memutuskan melakukan revitalisasi total terhadap gedung Poskesdes. Pembenahan mencakup pembaruan struktur bangunan, penyediaan fasilitas pemeriksaan yang lebih layak, hingga bantuan suplai obat-obatan guna memperkuat layanan kesehatan primer.
Di sela kunjungan rumah ke rumah (door-to-door), dr. Ikhsanuddin Qothi yang ikut dalam rombongan menyoroti bahwa fasilitas fisik saja tidak cukup. Menurutnya, pemahaman orang tua dalam mendeteksi gejala penyakit sejak dini merupakan benteng pertama kesehatan anak.
“Masalah di pelosok bukan cuma soal gedung, melainkan pemahaman masyarakat. Pencegahan penyakit bisa lebih efektif jika orang tua teredukasi dengan benar,” kata dr. Ikhsanuddin.
Bagi Moell, aksi turun ke lapangan ini menjadi penegasan bahwa peran sektor swasta harus melampaui sekadar penjualan produk. Uung menegaskan, kesehatan anak adalah hak mendasar yang seharusnya bisa dinikmati secara merata, tanpa terhalang sekat geografis.
“Perjalanan ini memperkuat komitmen kami. Mamburit bukan sekadar titik bantuan, tapi pengingat bahwa pemerataan akses kesehatan di Indonesia masih butuh kerja keras banyak pihak,” tutup Uung.
