Potensi perbedaan penetapan 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri di Indonesia kerap memicu diskusi hangat. Namun, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Ulul Albab, mengajak umat Islam untuk menyikapi dinamika ini dengan kematangan spiritual, bukan sebagai pemicu friksi sosial.

Hisab dan Rukyat: Ijtihad yang Sah

Ulul Albab menjelaskan bahwa perbedaan metode antara hisab, yang berbasis perhitungan astronomi presisi, dengan rukyatul hilal, yang mengandalkan verifikasi empirik melalui pengamatan hilal, merupakan bentuk ijtihad yang sah dalam tradisi keilmuan Islam. “Perbedaan penetapan 1 Syawal itu akar sejarahnya sangat kuat dalam tradisi keilmuan Islam. Ini adalah bentuk ijtihad yang sah. Hisab menawarkan prediksi jauh hari, sementara rukyat mengedepankan kehati-hatian lewat verifikasi langsung,” ujar Ulul Albab dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (19/3/2026).

Ia menyayangkan jika selama ini publik terjebak dalam cara pandang dangkal yang langsung mencap perbedaan tanggal hari raya sebagai tanda perpecahan. Padahal, menurutnya, dinamika ini merupakan dialektika antara perkembangan sains modern dengan otoritas keagamaan yang masih terjaga.

Toleransi dan Persatuan di Hari Kemenangan

Bagi Ulul Albab, momen menanti hilal adalah waktu yang tepat untuk menguji toleransi intra-umat. Keseragaman tidak bisa menjadi satu-satunya indikator persatuan, sebab kebenaran dalam ranah ijtihad memiliki banyak perspektif dengan landasan teologis dan ilmiah yang kuat. “Idul Fitri itu bukan cuma soal menyamakan kalender. Ini soal bagaimana kita tetap satu barisan meski berbeda jalan menuju hari kemenangan. Tidak ada tempat untuk saling menyalahkan dalam wilayah ijtihad,” tegasnya.

Negara dan organisasi masyarakat (ormas) Islam memikul tanggung jawab besar untuk memberikan literasi keagamaan yang mencerahkan. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak bingung saat pemerintah menggelar sidang isbat, sementara kelompok lain mungkin sudah menetapkan hari raya lebih awal. Transformasi diri setelah sebulan penuh berpuasa dianggap jauh lebih krusial dibandingkan meributkan selisih hari.

Ulul Albab mengingatkan bahwa esensi Ramadan adalah membentuk pribadi yang bertakwa. “Apa maknanya Idul Fitri datang lebih cepat atau lambat kalau hati kita belum kembali bersih? Mau beda hari pun, kita tetap menghadap kiblat yang sama dan mengucap takbir yang sama,” pungkasnya.