Semangat Kartini, yang dulu identik dengan perjuangan emansipasi melalui pendidikan, kini menemukan resonansi baru di tengah gelombang transformasi digital. Di saat rata-rata lama sekolah perempuan di Indonesia masih berada di angka 8,79 tahun pada 2025, kesenjangan akses terhadap pendidikan dan teknologi tetap menjadi tantangan besar, terutama di wilayah timur Indonesia. Namun, melalui program Microsoft Elevate, narasi ini mulai berubah, digerakkan oleh perempuan-perempuan tangguh yang membawa kecerdasan buatan (AI) ke ruang kelas dan birokrasi.
Perjuangan Ory Mangiri di Pedalaman Papua Pegunungan
Ory Mangiri adalah salah satu potret nyata dari perjuangan tersebut. Sebagai guru ASN yang telah mengabdi sejak 2010 di pedalaman Nduga, Papua Pegunungan, ia harus menghadapi medan sulit dan biaya puluhan juta rupiah hanya untuk mencapai lokasi tugasnya dengan pesawat kecil. Di sana, tantangan tidak hanya datang dari keterbatasan listrik, tetapi juga tradisi pernikahan dini yang kerap merampas hak belajar siswinya.
Dengan gigih, Ory tak pernah lelah meyakinkan orang tua murid setiap Minggu di gereja. Ia mengenang, “Anak-anak ini sedang membangun masa depan. Beri mereka waktu untuk belajar.” Kini, pengabdian Ory berevolusi seiring adopsi teknologi.
Melalui pelatihan AI for Educators, Ory mengintegrasikan Microsoft Copilot untuk menyusun rencana pembelajaran yang lebih kreatif dan relevan. Hasilnya terlihat signifikan, di mana murid-murid SD Inpres Kenyam kini menunjukkan aktivitas dan rasa ingin tahu yang lebih tinggi. Dedikasi ini mengantarkan Ory meraih predikat Duta Teknologi Provinsi Papua Pegunungan 2024.
Sherlita Ratna Dewi Agustin: Memimpin Transformasi Digital di Jawa Timur
Di sisi lain, transformasi digital juga merambah sektor pemerintahan melalui sosok Sherlita Ratna Dewi Agustin. Sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Timur, Sherlita berhasil mematahkan stereotip gender dalam kepemimpinan teknologi. Ia menyadari bahwa adopsi kecerdasan buatan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan efisiensi pelayanan publik.
Sherlita menegaskan, “Saya belajar untuk tidak membiarkan stereotip membatasi langkah. Posisi ini adalah kesempatan menunjukkan bahwa perspektif perempuan membawa nilai tambah dalam kebijakan.” Melalui program GARUDA AI, ia mendorong ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Jawa Timur untuk melek teknologi secara etis dan bertanggung jawab.
Baginya, AI bukanlah pengganti peran manusia, melainkan alat bantu yang krusial agar birokrasi dapat berfungsi lebih responsif dan inklusif.
Akses Setara dan Masa Depan Berbasis AI
Data menunjukkan bahwa adopsi AI di sektor publik memiliki potensi besar untuk memangkas defisit hingga 22% dan menaikkan Produk Domestik Bruto (PDB) riil sebesar 4%. Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, yang hadir dalam acara Women at Microsoft (WAM) Indonesia, turut menegaskan pentingnya akses setara. Menurutnya, apa yang dicita-citakan laki-laki, sejatinya bisa dijangkau perempuan asalkan keadilan akses diberikan secara merata.
Perjalanan inspiratif Ory di Papua dan Sherlita di Jawa Timur menjadi bukti nyata bahwa semangat Kartini tetap hidup dan relevan. Mereka menunjukkan bahwa di era teknologi yang melesat cepat, perempuan bukan sekadar penonton, melainkan motor penggerak perubahan yang memastikan kemajuan tetap memiliki sentuhan manusiawi.
