Identitas etnis dan keterbatasan fisik kerap menjadi tembok tebal dalam pelestarian budaya. Namun, bagi Christopher Jason Santoso, hambatan tersebut justru menjadi bahan bakar untuk membuktikan bahwa seni tradisi tidak mengenal sekat eksklusif. Mahasiswa S1 Studi Pembangunan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini sukses mengukir prestasi sebagai dalang Tionghoa sekaligus peneliti muda yang vokal menyuarakan isu inklusi.
Perjalanan Awal dan Tantangan Diskriminasi
Langkah Christopher di dunia pewayangan bermula dari tugas sekolah dasar yang sederhana. Ketertarikan itu membawanya ke sebuah sanggar di Surabaya untuk belajar lebih dalam. Bukannya sambutan hangat, pemuda kelahiran 2004 ini justru kenyang dengan perundungan. Ia sempat diremehkan karena kondisi rhotasisme atau sulit melafalkan huruf “R” (cadel), ditambah lagi sentimen negatif terkait latar belakang etnisnya.
“Saya sempat berhenti karena tekanan itu. Tapi akhirnya kembali lagi karena yakin warisan budaya ini milik siapa saja tanpa memandang perbedaan,” ujar Christopher, mengenang masa sulitnya.
Enggan menyerah pada penolakan, ia memilih jalur otodidak. Lewat buku dan media sosial, ia mengasah teknik mendalang hingga mampu tampil memukau di ajang See You Soon 2023 ITS. Tak tanggung-tanggung, ia membawakan lakon wayang dalam tiga bahasa sekaligus, yakni Inggris, Jawa, dan Mandarin, menunjukkan kemampuannya yang luar biasa.
Dari Panggung Wayang ke Forum Internasional
Kecintaan pada budaya Jawa ini tidak berhenti di atas panggung kayu. Sebagai akademisi, Christopher mengonversi kegelisahannya terhadap diskriminasi menjadi riset ilmiah. Tugas akhir miliknya membedah fenomena diskriminasi terhadap penutur rhotasisme di Surabaya. Kerja keras ini membawanya menjadi pembicara di International Symposium on Javanese Culture 2024, sebuah pengakuan atas kontribusinya dalam kajian budaya.
Eksistensi Christopher di ITS juga mencakup ranah kewirausahaan dan diplomasi internasional. Ia membidani Herbits, sebuah startup jamu modern yang berhasil mendapat pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Di kancah global, ia tercatat sebagai Champion of ASEAN Future Innovators Challenge di Malaysia serta aktif dalam forum pemuda di China hingga forum hukum Asia-Afrika (AALCO), menunjukkan jangkauan pengaruhnya yang luas.
Resonansi Inklusi dari Suara Cadel
Meski jadwalnya padat sebagai calon wisudawan periode April 2026, pemuja gaya mendalang Ki Nartosabdo ini tetap konsisten naik panggung. Penampilan terakhirnya di TEDxITS 2024 menjadi bukti bahwa suara cadel yang dulu dihina, kini justru menjadi resonansi bagi inklusi sosial di Indonesia. Melalui perjalanannya, Christopher menunjukkan bahwa melestarikan budaya bukan soal garis keturunan, melainkan soal keberanian merawat keberagaman di tengah gempuran modernitas.
sumber gambar: jatimnow.com 