Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menyediakan hingga 700 porsi takjil setiap hari selama bulan Ramadan 1447 Hijriah. Inisiatif ini bertujuan untuk menjalin kebersamaan dan menyatukan umat melalui kegiatan buka puasa bersama.
Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, menyatakan bahwa program ini bukan hanya sekadar hidangan, melainkan upaya untuk menciptakan kehangatan dan kebersamaan di antara warga yang datang. “Setiap hari ada sekira 700 porsi disiapkan untuk warga yang datang berbuka puasa, sehingga rasa manis dan kehangatan bukan hanya terasa di lidah, namun juga dari kebersamaan di masjid menjelang azan Magrib, bahkan hingga tarawih,” kata Alimuddin di Nusantara, Minggu (1/3).
Menu andalan yang disiapkan adalah Bubur Nusantara, yang dimasak langsung di pelataran masjid dalam kawasan inti pusat pemerintahan IKN. Alimuddin menjelaskan bahwa kehadiran Bubur Nusantara merupakan bagian dari upaya mengangkat kearifan lokal kawasan IKN dan daerah penyangga. Resep bubur ini berasal dari Samarinda Seberang, Kalimantan Timur, yang diwariskan secara turun-temurun dan biasanya hanya dihidangkan saat Ramadan.
Bubur berwarna cokelat muda dengan taburan bubuk rempah keemasan ini dimasak selama kurang lebih satu setengah jam di dapur masjid. Beragam rempah yang diracik dalam bumbu kari menjadi kunci kelejatannya. Dari dapur sederhana itulah, cita rasa lokal menemukan panggungnya di Ibu Kota Nusantara.
“Kami mencoba mengangkat kearifan lokal sekitar IKN dan Kalimantan Timur, harapannya agar makin dikenal luas. Masyarakat umum silakan datang ke Masjid Negara. Kami ikhtiarkan tempat ini menjadi simbol harmonisasi dan keberagaman,” ujar Alimuddin.
Muhammad Tasrik, salah seorang juru masak, menambahkan bahwa bumbu kari rempah adalah identitas Bubur Nusantara. “Wangi dari aroma rempah inilah yang membuat khas bubur tersebut,” jelas Tasrik.
Menjelang waktu berbuka, masyarakat dari berbagai latar belakang mulai berdatangan. Pegawai, pekerja konstruksi, keluarga, hingga anak-anak duduk berdampingan tanpa sekat. Tidak hanya umat Muslim, masyarakat non-Muslim pun turut hadir menikmati suasana kebersamaan Ramadan ini. Semangkuk bubur menjadi jembatan sederhana yang mempertemukan beragam latar belakang dalam satu ruang yang sama.
Muslih, seorang pekerja house keeping di Rumah Susun ASN, mengaku selalu menantikan momen berbuka di Masjid Negara IKN. “Seru berbuka di sini. Banyak masyarakat datang untuk menikmati takjil dengan menu beragam. Bubur Nusantara rasanya enak banget, gurih, bikin ketagihan,” tuturnya.
Di Nusantara yang tengah bertumbuh ini, Bubur Nusantara bukan sekadar hidangan buka puasa, melainkan simbol bahwa IKN dibangun untuk semua, tanpa membedakan ras, agama, maupun golongan.
sumber gambar: Antara 