Menjalani salat tarawih di Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya pada Jumat (20/2/2026) menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda. Di tengah lantunan ayat suci dan doa-doa Ramadan, jemaah diajak menyelami harmoni akulturasi budaya Tionghoa dan Islam yang terasa kuat, mulai dari arsitektur, ornamen, hingga atmosfer ibadah yang khusyuk.

Sejak hari pertama Ramadan, Masjid Cheng Ho yang berlokasi di Jalan Gading Surabaya ini selalu dipadati jemaah. Muslim Tionghoa dan warga lokal memadati masjid dengan arsitektur mirip Masjid Niuji di Beijing tersebut. Jemaah laki-laki beribadah di dalam masjid beratap pagoda, sementara jemaah wanita menempati pelataran masjid yang luas.

Ketua Takmir Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya, Ahmad Hariyono Ong, mengakui bahwa antusiasme jemaah memang cenderung berkurang saat hujan. Namun, semangat masyarakat untuk mengikuti rangkaian ibadah Ramadan di masjid ini tetap tinggi.

“Kalau hujan biasanya memang berkurang. Tapi tetap antusias. Kapasitas masjid bisa sampai 500 jemaah. Itu sudah banyak, apalagi lokasi masjid ini jauh dari perkampungan,” ujar Ahmad Hariyono Ong.

Sebagian besar jemaah bahkan mengikuti rangkaian tarawih 20 rakaat dan tiga witir hingga selesai. Selain salat tarawih, Masjid Cheng Ho Surabaya juga rutin mengadakan berbagai kegiatan selama bulan suci Ramadan.

Ragam Kegiatan Ramadan dan Nilai Toleransi Laksamana Cheng Ho

Berbagai kegiatan tersebut meliputi penyediaan buka puasa bersama sebanyak 600 hingga 700 porsi setiap hari, kajian keislaman, tadarus Al-Qur’an, hingga program khatmil Qur’an. Kegiatan buka puasa bersama, yang dimulai sejak hari pertama puasa pada Kamis (19/2/2026), diperuntukkan bagi masyarakat sekitar maupun para musafir yang singgah.

“Berbuka bersama dengan masyarakat sekitar, para musafir juga kadang-kadang ada,” imbuh Ahmad.

Ia menambahkan, pada malam peringatan Nuzulul Qur’an, pihak takmir akan menggelar khatmil Qur’an yang dibacakan oleh tiga penghafal Al-Qur’an. Sementara itu, pada 10 malam terakhir Ramadan, sejumlah rangkaian ibadah khusus juga disiapkan.

“Sepuluh hari terakhir, terutama di malam ganjil, akan digelar salat qiyamul lail, salat malam, salat taubat, salat tasbih, salat hajat, serta zikir bersama,” bebernya.

Tak hanya dikenal sebagai pusat ibadah, Masjid Cheng Ho Surabaya juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat. Masjid ini dibangun sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok Laksamana Cheng Ho, seorang muslim Tionghoa dari Dinasti Ming yang dikenal saleh, berakhlak mulia, serta menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama.

Cheng Ho, yang memiliki nama kecil Ma He, sejak usia belia direkrut menjadi kasim kerajaan dan dipercaya memegang berbagai jabatan penting berkat kejujuran, kecerdasan, dan keteladanan sikapnya. Dalam perjalanan hidupnya, ia dikenal sebagai tokoh yang menghormati perbedaan keyakinan. Meski beragama Islam, Cheng Ho tetap menghargai pemeluk Buddha dan Tao. Sikap toleran tersebut membuatnya dianugerahi gelar kehormatan “Foo Fok Chen”, yang mencerminkan ketakwaan, kebijaksanaan, dan kesalehan pribadi. Cheng Ho kemudian dikenal luas sebagai simbol harmoni dan persatuan lintas budaya.

Sebagai laksamana besar Dinasti Ming, Cheng Ho memimpin armada laut raksasa dengan ratusan kapal dan puluhan ribu awak. Dalam setiap pelayaran, ia selalu menekankan pentingnya persaudaraan, penghormatan terhadap perbedaan, serta kepedulian sosial. Ia juga dikenal sering membantu kaum miskin dan yatim tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun budaya.

Pusat Pendidikan dan Sosial

Nilai-nilai luhur tersebut menginspirasi pendirian Masjid Cheng Ho Surabaya, yang kini tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol persatuan etnis Tionghoa Muslim dengan masyarakat Indonesia. Arsitekturnya mengusung nuansa khas Tiongkok dengan dominasi warna merah, hijau, dan kuning, berpadu harmonis dengan unsur Islam.

Selain sebagai pusat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan dan sosial. Berbagai fasilitas tersedia, mulai dari taman kanak-kanak, lapangan olahraga, kantor pengelola, kelas kursus bahasa Mandarin, hingga kantin. Seluruh fasilitas tersebut diharapkan mampu mempererat silaturahmi, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memperkuat hubungan umat dengan Allah SWT.

Dengan nilai sejarah, budaya, dan toleransi yang dikandungnya, Masjid Cheng Ho Surabaya kini menjadi salah satu ikon wisata religi sekaligus pusat kegiatan keagamaan yang penting di Kota Surabaya.