Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengimbau seluruh jamaah calon haji Indonesia yang telah tiba di Madinah untuk senantiasa membawa kartu nusuk saat bepergian atau beraktivitas di luar hotel. Kartu identitas digital ini ditekankan sebagai akses resmi dan wajib selama berada di Tanah Suci.

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaf, dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (27/4/2026), menegaskan pentingnya kartu tersebut. “Selalu membawa kartu nusuk saat berpergian,” ujarnya. Maria menjelaskan bahwa seseorang yang tidak membawa atau tidak memiliki kartu nusuk berisiko ditolak masuk ke kawasan tertentu, terutama di Makkah.

Oleh karena itu, kartu nusuk harus selalu dikenakan ke mana pun jamaah pergi. Sistem kode batang (barcode) yang tertera pada kartu nusuk memuat informasi lengkap mengenai data diri serta pemondokan jamaah. Informasi ini krusial untuk memudahkan petugas dalam melacak dan memberikan bantuan apabila terjadi kendala, seperti mengarahkan kembali ke rombongan atau mengantar ke hotel tempat menginap.

Maria Assegaf bahkan menyebut kartu nusuk sebagai elemen vital bagi keselamatan jamaah. “Jangan tinggalkan kartu nusuk dari diri anda karena kartu nusuk sebagai nyawa kedua bagi jamaah,” tegasnya.

Kartu nusuk sendiri merupakan identitas digital yang wajib digunakan oleh jamaah selama di Arab Saudi. Kartu ini diberikan dan harus diaktivasi oleh syarikah, penyedia layanan haji yang dikontrak oleh pemerintah. Fungsinya sangat penting untuk membedakan antara jamaah resmi dan ilegal, serta memuat data pribadi seperti nama, foto, tempat dan tanggal lahir, lokasi penginapan, dan informasi penting lainnya.

Selain sebagai tanda pengenal, kartu nusuk juga menjadi syarat utama bagi jamaah untuk mengakses berbagai layanan dan area penting, termasuk memasuki Kota Makkah dan Masjidil Haram. Kartu Nusuk ini melengkapi visa haji yang juga wajib dibawa oleh setiap anggota jamaah.