LIMA mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Tim delegasi FK USK sukses meraih Juara I (1st Winner) Scientific Poster Competition dalam ajang bergengsi East Asian Medical Students’ Conference (EAMSC) 2026 yang diselenggarakan di Nepal pada Januari 2026.
Kemenangan ini diraih melalui riset inovatif terkait kesehatan mental tenaga kesehatan. Penelitian mereka berjudul: Innovative Esketamine Nasal Spray as Adjunctive Therapy for Treatment-Resistant Depression: A Systematic Review and Meta-Analysis on Its Potential Use in Healthcare Workers.
Kelima mahasiswa yang tergabung dalam tim tersebut adalah Salwa Keisha, Nazira Evanda, Naja Nurilhaqqi Araz Albani, Putri Suhaila, dan Najwa Alifa. Isu yang diangkat oleh tim FK USK dinilai strategis dan relevan untuk dunia medis saat ini.
Fokus pada Depresi Resisten Pengobatan
Wakil Dekan Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan FK USK, Rina Suryani Oktari, menjelaskan latar belakang pemilihan isu kesehatan mental dan esketamine nasal spray. Menurutnya, penyakit mental sangat sering ditemui dan berdampak besar pada kualitas hidup.
Penelitian kemudian dikerucutkan pada pembahasan treatment-resistant depression (TRD), yaitu kondisi ketika pasien tidak menunjukkan perbaikan yang cukup meskipun sudah mencoba beberapa lini antidepresan standar. “Sehingga perlu dipertimbangkan pilihan terapi lain,” ujar Oktari.
Oktari mengungkap, timnya melakukan tinjauan sistematis terhadap berbagai intervensi yang biasa digunakan pada TRD. Mereka menemukan bahwa esketamine nasal spray semakin banyak dibahas karena menawarkan mekanisme kerja yang berbeda dan efek yang relatif cepat. Oleh karena itu, topik ini dipilih sebagai fokus meta-analisis.
“Tentu bertujuan menilai efektivitas dan keamanannya sebagai terapi tambahan. Kami juga menyadari bahwa sebagian literatur yang ada cukup banyak terkait dengan industri farmasi, sehingga penting bagi kami untuk tetap kritis terhadap potensi bias dan menilai bukti secara objektif,” kata Oktari.
Penggunaan Esketamin di Indonesia Masih Terbatas
Mengenai status pemakaian esketamine nasal spray di Indonesia, Oktari menyebutkan bahwa data penggunaan terapeutik masih sangat terbatas dan belum dianggap sebagai terapi umum. Bahkan di kalangan tenaga medis, ketersediaannya terbatas dan umumnya hanya dapat digunakan di fasilitas kesehatan di bawah pengawasan dokter, sesuai panduan obat.
Belum ada data nasional yang menunjukkan penggunaan luas di masyarakat atau di kalangan tenaga medis seperti di klinik psikiatri atau rumah sakit umum di Indonesia. “Dengan kata lain, pemakaian esketamine dalam praktik sehari-hari di Indonesia masih jauh dari ‘umum’ dan cenderung berada dalam konteks konsultasi serta terapi di pusat kesehatan mental yang sudah memiliki fasilitas khusus,” jelas Oktari.
Ia menambahkan, “Ini terutama disebabkan oleh ketersediaan obat yang terbatas, serta kebutuhan pengawasan ketat terhadap efek sampingnya,” ujar Oktari yang ditemani juru bicara tim riset mahasiswa, Salwa Keisha.
Terkait efektivitas pemakaian di Indonesia, data juga belum tersedia karena penggunaan yang belum meluas atau terdokumentasi secara sistematis. Namun, berdasarkan penelitian di luar negeri, termasuk di Eropa atau Spanyol, efektivitasnya mengarah pada respons klinis yang cepat.
Sebagai contoh, dalam studi observasional dengan 196 pasien TRD, sekitar 80,4% pasien mencapai respons atau remisi dalam fase induksi 4 minggu. Sebagian besar pasien bahkan melaporkan perbaikan dalam 24 jam pertama setelah pemberian pertama.
Efek Samping Ringan dan Harapan Inovasi Medis
Oktari menyebutkan bahwa efek samping kebanyakan bersifat ringan, seperti pusing atau mual, yang akan menurun seiring waktu. Karena tidak ada data spesifik di Indonesia, efek-efek ini digunakan sebagai referensi dunia nyata yang relevan secara biologis, meskipun harus ditranslasikan dengan hati-hati ke konteks lokal.
Hasil meta-analisis RCT (Randomized Controlled Trial) menunjukkan bahwa esketamine nasal spray secara signifikan menurunkan skor depresi (MADRS, PHQ-9) dan meningkatkan respons serta remission rate dibandingkan kontrol. Beberapa RCT mencatat perbaikan gejala terlihat sejak 24 jam setelah dosis pertama, jauh lebih cepat dibandingkan antidepresan tradisional yang memerlukan berminggu-minggu.
Analisis juga menunjukkan bahwa esketamine masih memiliki efek bertahan lebih lama dan bersifat aman dalam beberapa studi lanjutan, meskipun penelitian lebih lanjut tetap diperlukan.
“Terima kasih Fakultas Kedokteran, terima kasih Universitas Syiah Kuala, terima kasih untuk semua. Semoga semua ini menjadi inovasi baru dan bermanfaat untuk dunia medis,” tutur Oktari yang diamini kelima mahasiswa yang tergabung dalam tim penelitian.
