Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Senin mendesak negara-negara Uni Eropa (UE) untuk berkomitmen membantu Armenia dalam melindungi perbatasan negaranya. Seruan ini muncul di tengah fakta bahwa tugas penjagaan perbatasan Armenia saat ini masih banyak diemban oleh pasukan Rusia.
Sejak era Soviet, sistem keamanan perbatasan Armenia dengan Turki dan Iran relatif tidak berubah. Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) memiliki empat detasemen Penjaga Perbatasan di Armenia, yang ditempatkan di Gyumri, Armavir, Artashat, dan Meghri.
Namun, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan pada 30 April lalu telah menyatakan bahwa pasukan perbatasan Armenia akan secara bertahap menggantikan militer Rusia dalam menjaga perbatasan republik tersebut.
Dalam pidatonya kepada komunitas diaspora Prancis di Armenia pada Senin, Macron menegaskan, “Armenia telah memilih untuk mengarah ke Eropa. Tetapi pada saat yang sama, sekitar 4.000 tentara Rusia masih berada di wilayah Armenia, dengan lebih dari 2.000 di antaranya terlibat langsung dalam perlindungan perbatasan. Karena itu, Eropa harus berkomitmen membantu menjaga perbatasan negara ini.”
Menurut Macron, langkah tersebut krusial untuk memberikan Armenia kemandirian yang lebih besar dalam menjaga kedaulatan wilayahnya.
Upaya Armenia untuk mengambil alih tanggung jawab penjagaan perbatasan telah terlihat sejak tahun lalu. Sejak 1 Agustus 2024, pasukan perbatasan Armenia mulai melakukan patroli mandiri di perbatasan negara di Zvartnots tanpa keterlibatan Rusia, menandai pertama kalinya sejak tahun 1992.
Kemudian, per 1 Januari 2025, hanya personel Armenia yang bertugas di pos pemeriksaan perbatasan Armenia-Iran.
Meskipun demikian, berdasarkan kesepakatan dengan pihak Rusia, sejak Januari 2025 pasukan Dinas Keamanan Nasional Armenia tetap melakukan operasi gabungan dengan penjaga perbatasan Rusia di perbatasan Armenia-Iran dan Armenia-Turki.
