Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya. Pernyataan ini disampaikan menyusul eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memicu sentimen penghindaran risiko (risk off) di pasar keuangan global.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, dalam keterangannya di Jakarta pada Senin (2/3), memastikan bahwa bank sentral akan tetap berada di pasar untuk melakukan intervensi. Langkah ini akan ditempuh melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.

“BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga,” kata Erwin.

Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin pagi (2/3), nilai tukar rupiah terpantau melemah 42 poin atau 0,25 persen. Rupiah bergerak ke level Rp16.829 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.787 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan mata uang rupiah pada Senin ini bakal bergerak melemah lebih lanjut. Ia memperkirakan rupiah akan berada di kisaran Rp16.750-Rp16.900 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda ini disebabkan oleh kecenderungan pelaku pasar untuk menghindari aset berisiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global.

Eskalasi Konflik di Timur Tengah

Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah. Pada Sabtu (28/2), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan ini dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil.

Aksi militer tersebut terjadi setelah putaran ketiga perundingan AS-Iran terkait program nuklir Teheran berakhir pada Kamis (26/2) malam di Jenewa tanpa kesepakatan yang signifikan. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Pada Minggu (1/3), Presiden AS Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan AS-Israel. Klaim ini kemudian dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran, yang menyatakan kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan tersebut.

Pemerintah Iran telah mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional dan libur kerja selama seminggu pasca-meninggalnya Ali Khamenei. Untuk mengisi kekosongan jabatan, Presiden Iran, ketua pengadilan, dan seorang anggota Dewan Wali Iran akan menjalankan tugas-tugas Khamenei untuk sementara waktu.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Darat Iran, dalam pernyataan tertulis mereka, bersumpah akan membalas kematian Sayyid Ali Khamenei, mengindikasikan potensi peningkatan tensi di kawasan tersebut.

sumber gambar: gesit.id