Petani di Provinsi Aceh menghadapi krisis serius pada musim tanam padi rendengan kali ini. Ketersediaan pupuk bersubsidi jenis urea dan NPK Phonska di pasaran sangat langka, bahkan harganya melambung tinggi di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Kondisi ini menimbulkan keresahan, mengingat tanaman padi yang sudah berusia sepekan hingga dua bulan seharusnya mendapat pemupukan memadai.

Kelangkaan pupuk bersubsidi ini tidak diketahui secara jelas penyebabnya di tingkat pengecer. Akibatnya, banyak petani terpaksa beralih menggunakan pupuk nonsubsidi yang harganya jauh lebih mahal, atau mengurangi dosis pemupukan.

Harga Melambung Tinggi, Petani Terpaksa Kurangi Dosis

Faisal, seorang petani di Kemukiman Bluek, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie, mengungkapkan kekhawatirannya. Ia terpaksa menggunakan pupuk urea dan NPK nonsubsidi karena krisis pupuk bersubsidi. “Ketersediaan pupuk subsidi itu cukup langka. Jarang sekali mendapati pupuk tersebut pada pengecer resmi. Kalaupun ada, harganya cukup tinggi, di luar harga subsidi,” tutur Faisal kepada Media Indonesia, Sabtu (7/2).

Faisal menjelaskan, harga pupuk urea subsidi yang seharusnya Rp90.000 per zak (ukuran 50 kg), kini dijual mencapai Rp120.000 hingga Rp130.000 per zak. Sementara pupuk NPK Phonska yang HET-nya Rp92.000 per zak, di tingkat pengecer mencapai Rp100.000 hingga Rp120.000 per zak. Kenaikan harga ini memaksa petani mengurangi pemberian pupuk pada tanaman mereka.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Utara. Petani di sana juga harus beralih ke pupuk nonsubsidi atau menambahkan pupuk organik yang harganya lebih murah untuk menutupi kebutuhan. “Kadang harus mencari pupuk bersubsidi ke tempat lain di luar kecamatan. Di lokasi domisili sendiri tidak ada. Karena mendesak, terpaksa membeli walau harga lebih mahal. Tidak tahu apakah ulah pedagang atau sebab lain,” kata Maimun, warga Kemukiman Pirak, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara.

Ancaman Terhadap Produksi Padi Pascabanjir

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK), Profesor Sugianto, menegaskan pentingnya jaminan ketersediaan pupuk bersubsidi bagi petani Aceh. Menurut Guru Besar dan pakar Ilmu Tanah tersebut, pupuk merupakan kebutuhan dasar setiap musim tanam padi untuk meningkatkan hasil panen.

Krisis ketersediaan pupuk bersubsidi menjadi masalah serius, terutama dalam upaya meningkatkan surplus gabah hasil panen raya. “Aceh baru saja mengalami banjir besar yang meluluhlantakkan 89.582 hektare lahan sawah produktif hancur dan tertimbun lumpur. Untuk menutupi kekurangan produksi itu, harus ada peningkatan panen di sawah yang tersisa,” ujar Profesor Sugianto.

Kelangkaan dan mahalnya pupuk bersubsidi ini dikhawatirkan akan semakin memperparah kondisi petani dan mengancam target produksi padi di Aceh, terutama setelah bencana banjir yang merusak ribuan hektare lahan pertanian.