SURABAYA – Provinsi Jawa Timur mencatatkan pertumbuhan ekonomi impresif sebesar 5,96 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Triwulan I 2026. Angka ini menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Jawa, sekaligus menegaskan posisinya sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyatakan capaian ini merupakan bukti ketahanan dan akselerasi ekonomi Jatim di tengah dinamika global. “Alhamdulillah, di tengah tantangan global yang dinamis, Jawa Timur mampu tumbuh tertinggi se-Jawa. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat fondasi ekonomi daerah,” ujar Khofifah di Surabaya, Kamis (7/5/2026).
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Jawa Timur juga menunjukkan kenaikan 1,25 persen dibandingkan Triwulan IV 2025. Kekuatan ekonomi provinsi ini masih ditopang oleh tiga sektor utama: industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian.
Struktur dan Kontributor Utama Ekonomi Jatim
| Indikator Ekonomi | Capaian / Kontribusi |
|---|---|
| Pertumbuhan Ekonomi (y-on-y) | 5,96% |
| Pertumbuhan Ekonomi (q-to-q) | 1,25% |
| Kontribusi terhadap Ekonomi Pulau Jawa | 25,16% |
| Kontribusi terhadap Ekonomi Nasional | 14,40% |
Sektor Pendorong: Pariwisata hingga Program Makan Bergizi Gratis
Berdasarkan lapangan usaha, sektor jasa lainnya mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 13,44 persen. Lonjakan ini dipicu oleh peningkatan aktivitas rekreasi dan pariwisata pada awal tahun. Sektor akomodasi serta makan dan minum juga terdongkrak signifikan, salah satunya berkat implementasi Program Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah melonjak tajam hingga 20,33 persen. Peningkatan ini dipengaruhi oleh realisasi belanja pegawai untuk pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) ASN 2026 serta penyaluran bantuan sosial dan barang jasa melalui program MBG kepada masyarakat.
| Sektor / Komponen | Persentase |
|---|---|
| Sektor Industri Pengolahan (Kontribusi) | 31,45% |
| Sektor Perdagangan (Kontribusi) | 18,77% |
| Sektor Pertanian (Kontribusi) | 10,51% |
| Pertumbuhan Konsumsi Pemerintah | 20,33% |
Ekspansi Melalui Misi Dagang
Untuk menjaga momentum positif ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menggalakkan strategi pengendalian inflasi dan penguatan daya beli melalui pasar murah. Selain itu, instrumen Misi Dagang menjadi andalan dalam memperluas pasar produk lokal, baik di tingkat domestik maupun internasional.
Pada 2026, Misi Dagang ke Jawa Tengah telah mencatatkan transaksi sebesar Rp3,15 triliun, disusul DKI Jakarta dengan Rp5,74 triliun. Bahkan, potensi transaksi dari Misi Dagang ke Malaysia mencapai angka fantastis Rp15,25 triliun.
“Misi dagang adalah instrumen penting untuk memperkuat perdagangan antardaerah sekaligus memperluas pasar internasional bagi produk Jawa Timur,” tambah Khofifah.
Gubernur Khofifah mengapresiasi seluruh elemen masyarakat yang telah menjaga kondusivitas daerah. Ia berharap sinergi ini terus terjaga agar Jawa Timur tetap produktif sebagai “Gerbang Baru Nusantara”.
