Kampus, sebuah institusi yang pada mulanya lahir dari kebutuhan manusia untuk memahami kehidupan dan mencari kebijaksanaan, kini dihadapkan pada pergeseran fundamental. Menurut Muji Juherwin, M.Sc., Dosen Institut Teknologi Lombok, arah pendidikan tinggi perlahan berubah, di mana kesuksesan kampus semakin sering diukur dari seberapa banyak lulusannya menjadi pekerja dan menghasilkan uang.
Sejarah mencatat, tradisi ilmu pengetahuan selalu tumbuh dari ruang dialog yang hidup, bukan sekadar pabrik pencetak tenaga kerja. Di Agora Yunani pada abad ke-5 sebelum Masehi, masyarakat berdiskusi tentang filsafat dan kehidupan publik. Dunia Islam, sejak abad ke-8, mengembangkan tradisi halaqah yang puncaknya melahirkan Bayt al-Hikmah di Baghdad pada tahun 830 M sebagai pusat penerjemahan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Di India, Universitas Nalanda sejak abad ke-5 menjadi tempat belajar lintas bangsa dan disiplin ilmu. Demikian pula universitas-universitas abad pertengahan seperti Bologna (1088) dan Oxford (akhir abad ke-11) yang lahir sebagai komunitas pencari ilmu. Bahkan warung kopi Eropa pada abad ke-17 hingga ke-18 menjadi ruang diskusi penting bagi lahirnya banyak gagasan modern.
“Di semua tempat itu, ada satu hal yang sama: ilmu hidup melalui percakapan,” tegas Muji Juherwin. Ia menambahkan, ilmu tidak tumbuh karena gedung yang megah, melainkan karena rasa ingin tahu, kebebasan berpikir, dan keberanian manusia untuk mempertanyakan keadaan. Kampus dahulu, menurutnya, lebih sibuk memikirkan bagaimana manusia dapat hidup lebih baik, lebih adil, lebih sehat, dan lebih bermakna, alih-alih menghitung cepatnya lulusan diterima kerja.
Pergeseran Paradigma: Kampus sebagai Pabrik Karyawan
Namun, kondisi hari ini menunjukkan perubahan signifikan. Muji Juherwin mengamati bahwa pendidikan dipandang berhasil ketika mampu memasok tenaga kerja ke industri, mengubah kampus menjadi “pabrik karyawan”. Ia mengakui bahwa pekerjaan dan penghasilan adalah hal penting bagi manusia untuk hidup layak.
“Namun persoalannya muncul ketika uang menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan,” ujarnya. Ketika segala sesuatu diukur dengan keuntungan ekonomi, banyak hal penting mulai kehilangan tempat. Jurusan dinilai dari tinggi rendahnya gaji lulusan, riset dihargai jika menghasilkan pasar, dan pengetahuan dianggap penting jika bisa dijual. Bahkan, manusia perlahan dinilai berdasarkan produktivitas ekonominya.
Padahal, kehidupan manusia jauh lebih luas daripada sekadar angka pendapatan. Kita menyaksikan ruang-ruang hijau hilang demi pembangunan tanpa batas, sungai rusak demi keuntungan jangka pendek, dan budaya lokal terkikis oleh pasar yang seragam. Alam dieksploitasi tanpa henti atas nama pertumbuhan ekonomi, sementara manusia bekerja semakin keras namun seringkali semakin jauh dari ketenangan hidupnya sendiri.
Ironisnya, sebagian besar proses ini justru didukung oleh sistem pendidikan modern yang terlalu berorientasi pada pasar. “Kampus akhirnya lebih sering melahirkan manusia yang siap bekerja dibanding manusia yang siap berpikir. Lebih banyak mencetak pencari penghasilan dibanding pencari makna,” kata Muji Juherwin.
Dunia Membutuhkan Lebih dari Sekadar Pekerja
Muji Juherwin menekankan bahwa dunia hari ini tidak hanya membutuhkan pekerja, tetapi juga manusia yang mampu memperbaiki keadaan. Ia menyerukan kebutuhan akan ilmuwan yang peduli lingkungan, bukan sekadar ahli eksploitasi sumber daya; ekonom yang memikirkan keadilan sosial, bukan hanya pertumbuhan angka; dan insinyur yang mempertimbangkan keberlanjutan alam.
“Kita membutuhkan pemikir, guru, peneliti, seniman, dan pemimpin yang mampu menjaga nilai kemanusiaan di tengah dunia yang semakin materialistik,” tambahnya.
Fenomena ini mungkin menjadi alasan mengapa banyak orang merasa kampus sekarang semakin kehilangan ruhnya. Gedung semakin besar, teknologi semakin canggih, tetapi percakapan ilmu justru semakin sunyi. Mahasiswa sibuk mengejar nilai, sementara dosen sibuk mengejar laporan dan jabatan administratif. Diskusi panjang mulai tergantikan presentasi formal, membaca menjadi beban, dan berpikir terlalu lama dianggap tidak produktif.
“Padahal ilmu selalu membutuhkan ruang untuk bertanya, meragukan, dan merenung,” pungkas Muji Juherwin.
Kampus yang sehat seharusnya bukan hanya tempat yang mengajarkan cara mencari uang, tetapi juga tempat manusia belajar memahami dampak dari apa yang mereka kerjakan terhadap kehidupan orang lain, terhadap alam, dan terhadap masa depan. Karena pada akhirnya, tujuan terbesar pendidikan bukan sekadar membuat manusia mampu hidup, tetapi membuat manusia mengerti untuk apa ia hidup.
