Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Iran secara resmi menutup Selat Hormuz pada Sabtu (28/2). Jalur vital distribusi minyak global ini, yang menguasai 20-30 persen perdagangan minyak dunia setiap harinya, kini terhenti akibat perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan ini segera memicu kekhawatiran akan dampak serius terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Sebagai negara yang masih sangat bergantung pada pasokan minyak impor, Indonesia diperkirakan akan merasakan langsung imbas dari ketegangan tersebut. Lonjakan harga energi global berpotensi menekan nilai tukar rupiah, membengkakkan beban subsidi energi, dan pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat. Kondisi ini secara khusus menjadi ancaman serius bagi industri otomotif nasional.

Dampak Langsung pada Industri Otomotif

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memperingatkan bahwa jika ketegangan di Selat Hormuz berlangsung lama, harga minyak dunia dapat menembus 100 dolar AS per barel. “Dampaknya langsung terasa pada industri otomotif Indonesia, karena biaya produksi bisa naik lebih dari 5 persen, terutama akibat kenaikan biaya energi, lonjakan ongkos logistik, serta semakin mahalnya parts impor perakitan mobil di Indonesia akibat naiknya tarif pengiriman,” kata Yannes saat dihubungi ANTARA pada Jumat (6/3).

Kenaikan biaya produksi ini, ditambah dengan potensi penurunan daya beli masyarakat, dapat menghambat pertumbuhan industri otomotif. Meskipun ketegangan eksternal tidak serta merta meruntuhkan industri, namun dapat menyebabkan pertumbuhan yang “stunting” atau terhambat.

Belajar dari Krisis Sebelumnya

Sejarah mencatat beberapa kejadian besar yang pernah melambatkan industri otomotif nasional:

  • Krisis Finansial Global 2008: Pelemahan ekonomi dan nilai tukar rupiah menyebabkan penjualan mobil nasional turun signifikan. Konsumen menahan pembelian di tengah ketidakpastian ekonomi.
  • Pandemi COVID-19 (2020): Dampaknya jauh lebih dalam, dengan penjualan mobil anjlok hampir 50 persen dibanding tahun 2019. Aktivitas ekonomi terhenti, daya beli melemah, dan pembiayaan menjadi lebih ketat.
  • Penyesuaian Harga BBM (2022): Penjualan mobil tidak runtuh, namun pertumbuhannya tertahan. Konsumen menjadi lebih selektif, terutama pada segmen kendaraan dengan konsumsi bahan bakar besar.

Pola yang terlihat jelas adalah setiap kali terjadi tekanan ekonomi yang memukul daya beli, industri otomotif selalu merasakan perlambatan.

Kinerja Ekspor Menjadi Penopang, Namun Rentan

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa pasar domestik pada tahun 2025 mengalami penurunan. Penjualan hanya mencapai 803.687 unit, turun 7,2 persen dibandingkan capaian 2024 yang sebesar 865.723 unit.

Berbanding terbalik, kendaraan utuh (CBU) produksi lokal justru mencatat pertumbuhan solid di pasar global. Kinerja ekspor CBU pada 2025 tumbuh 9,7 persen, dari 472 ribu unit pada 2024 menjadi 518 ribu unit. Yannes Martinus Pasaribu menjelaskan bahwa jalur ekspor ini cukup membantu menghidupkan industri otomotif dalam beberapa waktu terakhir.

Kawasan Timur Tengah memberikan sumbangsih signifikan, yakni 11,8 persen dari total ekspor mobil Indonesia yang mencapai 518.212 unit pada 2025. Namun, ketegangan di Selat Hormuz mengancam pasar ini. “Jika ketegangan berlangsung cukup lama, permintaan dari kawasan itu berisiko turun secara drastis karena biaya distribusi meningkat, dan turunnya demand akibat sentimen pasar yang bergeser ke arah mencari keamanan untuk diri mereka,” jelas Yannes.

Jika ekspor ke Timur Tengah terganggu, produsen otomotif Indonesia harus segera mencari jalur alternatif untuk menjaga utilisasi pabrik di dalam negeri.

Dilema Pasar Kendaraan Listrik di Tengah Kenaikan Harga BBM

Secara teori, kenaikan harga BBM seharusnya meningkatkan daya tarik kendaraan listrik (EV) dan hibrida (HEV) karena biaya operasionalnya yang lebih rendah. “Secara teori, BBM mahal membuat hybrid dan EV makin menarik karena biaya operasionalnya lebih rendah,” ucap Yannes.

Namun, Yannes juga memperingatkan bahwa tanpa dukungan subsidi yang memadai dan dalam rentang waktu yang sesuai, lonjakan harga BBM dapat memicu inflasi dan melemahkan daya beli. Ditambah lagi, depresiasi rupiah terhadap dolar AS akan menaikkan harga jual kendaraan, termasuk EV dan HEV.

“Gabungan dari semua itu, membuat banyak konsumen middle class (pasar terbesar mobil Indonesia) bakal tidak langsung pindah ke elektrifikasi, melainkan menunda pembelian sama sekali karena harga awal hybrid dan EV berpotensi lebih tinggi lagi ditambah dengan pembiayaan yang makin selektif,” kata Yannes. Ia menambahkan, “Jadi, tanpa adanya dukungan insentif yang jelas dan kredit yang lebih ramah bagi konsumen, lonjakan harga minyak lebih mungkin menunda transaksi daripada langsung menciptakan lonjakan pembelian EV maupun hybrid.”

Meskipun demikian, data Gaikindo menunjukkan peningkatan perhatian konsumen terhadap kendaraan elektrik. Sepanjang tahun 2025, penjualan kendaraan berbasis baterai (hibrida, PHEV, dan elektrik murni) meningkat dari 103.228 unit pada 2024 menjadi 175.144 unit.

Peran Pemerintah Sangat Dibutuhkan

Untuk menjaga keberlangsungan industri otomotif di tengah ketegangan global dan penutupan Selat Hormuz, Yannes Martinus Pasaribu menekankan pentingnya peran pemerintah. Ia mengusulkan tiga aspek kunci yang dapat dilakukan:

  1. Memastikan tidak terjadinya double shock kepada konsumen, yaitu harga BBM mahal dan bunga kredit tetap ketat. Kombinasi ini dinilai paling cepat memukul niat beli mobil baru.
  2. Mempertimbangkan stimulus yang lebih tepat sasaran, terutama untuk segmen volume terbesar seperti EV dan kendaraan niaga.
  3. Mempercepat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan diversifikasi pasar ekspor non-Timur Tengah. Langkah ini penting agar pabrikan tidak terlalu terpukul oleh fluktuasi kurs dan gangguan logistik global, sehingga utilitas pabrik tetap terjaga meski pasar domestik belum membaik.

Dukungan pemerintah diharapkan dapat menjadi bantalan bagi industri otomotif nasional agar tetap tumbuh di tengah tantangan geopolitik yang tidak menentu.